“KASIH TANPA PILIH KASIH”

Renungan Minggu Ini

Minggu09 September 2018  (Minggu Kedua, Minggu Biasa)

 "KASIH TANPA PILIH KASIH"

( Yakobus 2:1-10, 14-17; Markus 7:24-37)

Pernahkah Saudara menjadi orang yang termarjinalkan – disingkirkan, dihindari, atau dipandang sebelah mata? Atau paling tidak, pernahkah Saudara merasa dijauhi, tidak dianggap, atau nggak direken oleh orang-orang di sekitar Saudara? Kalau pernah, Saudara tidak sendiri! Kita semua tentu pernah merasakan yang sama – walaupun situasi, kondisi, dan kadarnya berbeda-beda. Ada dari kita, yang mengalaminya di lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Ada dari antara kita yang merasakannya di sekolah, kampus, atau di tempat kerja. Bahkan bisa jadi ada yang mengalaminya di gereja! Kita tentu sepakat bahwa perasaan disingkirkan, dijauhi, atau dipandang sebelah mata itu tidak enak, bahkan melukai batin kita!

Karena itulah Rasul Yakobus mengingatkan agar di tengah-tengah jemaat jangan sampai umat saling “memandang muka” terhadap satu sama lain. Dalam bahasa kita sehari-hari, istilah “memandang muka” sama dengan “pilih kasih” atau “pandang bulu”. Jangan sampai orang kaya lebih diistimewakan ketimbang yang miskin. Dalam konteks jemaat Kristen pada masa itu, yang notabene adalah jemaat rakyat jelata, terlihat sekali perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin secara penampilan lahiriah. Itu sebabnya, Yakobus mengecam perlakuan istimewa terhadap yang kaya dan pandangan sebelah mata terhadap yang miskin – ia mengibaratkannya seperti seorang hakim yang menghakimi sudah dengan pikiran yang jahat! Mengistimewakan orang kaya – dengan demikian memarjinalkan orang miskin – adalah kejahatan.

Yesus pun memberi contoh bagaimana menyatakan kasih tanpa pilih kasih. Perempuan Siro-Fenisia (perempuan blasteran Yunani-Kanaan yang kerap dijauhi orang) yang anaknya kerasukan setan dipenuhi pengharapannya. Iman, pengharapan, dan kerendahan hati sang perempuan bersambut dengan kasih Yesus yang mengangkatnya dari keterasingannya. Begitu pula seorang tuli dan gagap (yang dijauhi masyarakat karena ketidakmampuannya berkomunikasi dengan baik) dipulihkan martabatnya. Sehingga, orang banyak pun memuji Yesus, “Ia menjadikan segala-galanya baik …” Kasih yang tanpa pilih kasih adalah kasih yang mentransformasi. Kasih yang menjadikan segala-galanya baik. Nah, mari kita belajar mengasihi semua orang – tanpa pilih kasih. Tuhan memberkati.

Ketaatan dan Persaudaraan Sejati Sebagai Ibadah yang Murni

Renungan Minggu Ini

Minggu,02 September 2018 (Minggu Pertama, Minggu Biasa)

“KETAATAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI SEBAGAI IBADAH YANG MURNI

( Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-15, 21-23 )

     Rasul Yakobus menekankan tentang iman yang hidup. Iman mengungkapkan kepercayaan dan keyakinan akan kebaikan Allah. Kebaikan Allah nampak dalam bentuk Allah yang bekerja, bertindak untuk menyelamatkan. Dengan demikian, iman juga bukan barang mati. Ia hidup dan sebagai yang hidup ia harus diungkapkan. Dalam bahasa Yakobus: “… menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.” Ibadah bagi penulis surat Yakobus bukan sekedar ritual, tetapi harus juga nampak dalam perbuatan. Menjaga kehidupan supaya tetap berkenan kepada Allah dan melakukan perbuatan yang memuliakan Tuhan melalui yang yang dilakukan bagi sesama adalah ibadah bagi Tuhan. Arti ibadah dapat kita temukan dalam kepedulian dan perbuatan kongkret bagi sesama.

     Yesus dalam tuturan Injil Markus menjelaskan esensi dari hubungan umat dengan Tuhan dan sesama. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memahami bahwa esensi tersebut ditemukan dalam kepatuhan pada tradisi dan ritual-ritual agama, misalnya dalam kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Dalam perspektif para ulama Yahudi, ketaatan mewujud ketika tradisi dan ritual dipegang teguh dan dijalani secara ketat. Orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan berarti membiarkan dirinya najis oleh apa yang dimakannya. Yesus, di lain pihak, memiliki perspektif yang berbeda. Dalam pandangan Yesus, ketaatan bukanlah soal kesalehan individual, melainkan mengenai kesadaran personal untuk hadir bagi sesama di ruang publik. Karena itulah Yesus katakan bahwa yang menajiskan seseorang bukanlah apa yang masuk ke dalam tubuhnya, melainkan apa yang keluar dari dirinya (sikap, perkataan, dan perbuatan). Ketika sikap, perkataan, dan perbuatan seseorang malah merusak persaudaraan di tengah masyarakat, di situlah ketidaktaatan terjadi. Ketaatan, dengan demikian, adalah ketika persaudaraan sejati dibangun. Dan itulah sejatinya ibadah seorang beriman.Dalam lingkup kehidupan berbangsa, sudahkah sikap, perkataan dan perbuatan kita membangun persaudaraan sejati dengan sesama anak bangsa? Tuhan memberkati. Amin.

Jalan Penderitaan , Jalan Kemuliaan

Renungan Minggu Ini

Minggu,10 Februari 2013 (Minggu Transfigurasi)

"JALAN PENDERITAAN, JALAN KEMULIAAN"

( Keluaran 34:29-35; Lukas 9:28-36)

Lukas 9:29 menyaksikan, ”Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan”. Cahaya kemuliaan Allah dalam peristiwa transfigurasi Kristus adalah sesuatu yang muncul dari diriNya sendiri. Dengan demikian, kemuliaan Ilahi yang dipancarkan oleh Kristus menunjuk kepada kemuliaanNya yang telah ada sejak kekal. Kemuliaan ilahi dalam peristiwa transfigurasi Kristus merupakan pancaran kepenuhan Allah yang berdiam di dalam diriNya. Ayat 30 menyaksikan bahwa saat tubuh Kristus mengalami transfigurasi, datanglah Musa dan Elia. Kedatangan Musa dan Elia bukan sekedar percakapan tanpa arti. Sebaliknya kedatangan Musa dan Elia tersebut hendak membicarakan sesuatu yang begitu penting dan hakiki bagi karya keselamatan Allah. Ayat 31 menyaksikan isi atau misi dari kedatangan Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Kristus adalah: ”Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem”.

Tujuan utama kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menggenapkan karya penyelamatan Allah. Dan karya itu dijalani-Nya melalui jalan penderitaan – yaitu melalui salib. Jalan yang sulit dan penuh penderitaan itu sesungguhnya adalah jalan yang memancarkan kemuliaan kasih Allah. Menjadi perenungan bagi kita, apakah dalam hidup ini kita “mau enaknya saja”? Ataukah kita juga melatih dan mempersiapkan diri untuk menderita demi sesama kita? Tuhan memberkati.

BERKENAN DI MATA ALLAH, BERTEKUN MENYATAKAN KESELAMATAN

Renungan Minggu Ini

Minggu,12 Januari 2014 (Minggu Pembaptisan Kristus)

“BERKENAN DI MATA ALLAH, BERTEKUN MENYATAKAN KESELAMATAN

( Yesaya 42:1-9; Matius 3:13-17 )

     Yesaya menggambarkan bagaimana Allah memperkenalkan hamba-Nya. Hamba yang diperkenalkan ini adalah seorang hamba yang dipilih oleh Allah sendiri, dan hamba ini berkenan dihadapan-Nya. Sebagai seorang hamba yang berkenan kepada Allah, hamba ini menjalankan tugas-Nya dengan membawa hukum kepada bangsa-bangsa. Hamba ini bekerja tidak dengan suara nyaring sebagaimana bintara memberitahukan keputusan raja. Di samping itu, hamba Tuhan ini bekerja dengan cara yang tidak otoriter dan juga tidak menggunakan kekerasan. Hamba Tuhan ini menyatakan pengharapan dan keselamatan kepada bangsa-bangsa.

Injil Matius menceritakan tentang peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus. Di antara orang-orang yang datang ke sungai Yordan, datang pula  Yesus meminta untuk dibaptis. Tentu saja kehendak Yesus ini membuat Yohanes Pembaptis merasa tidak layak. Namun Yesus mengungkapkan: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah”. Yesus merelakan diriNya untuk dibaptis supaya kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia terselengara dan digenapi melalui diri-Nya. Dengan kata lain, pembaptisan itu semakin meneguhkan misi Tuhan Yesus untuk menyatakan keselamatan bagi manusia, agar pekerjaan Allah yang lebih besar dinyatakan melalui karyaNya. Yesus adalah Anak yang berkenan di mata Allah, Sang Bapa. Dan sesudah Ia dibaptis, melalui hidup, teladan, karya, dan ajaran-Nya, kita melihat ketekunan-Nya menyatakan keselamatan bagi umat manusia. Tuhan memberkati.

Takut Tanpa Menjadi Kalut

Renungan Minggu Ini

Minggu,24 Februari 2013 (Minggu Prapaskah II)

 “TAKUT TANPA MENJADI KALUT”

( Kejadian 15:1-12, 17-21; Lukas 13:31-35 )

 Perkataan Tuhan, “Janganlah takut, Abram, …” menunjukkan keadaan Abram. Agaknya, kekhawatiran dan kecemasan yang berakibat kepada ketakutan yang sangat besar dari Abram telah menenggelamkan hidupnya menjadi orang yang tak berpengharapan. Abram berkata, “… aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak…” Secara logika atau perhitungan manusia, apa yang dikeluhkan Abram benar. Faktor usia sudah tidak memungkinkan istri Abram bisa mengandung. Itulah sebabnya, ia sudah menyiap skenario terburuk, menjadikan Eliezer budaknya sebagai ahli waris. Namun ada kuasa Tuhan yang bekerja yang tidak bisa diukur dengan logika manusia. Tuhan mengingatkan janji Tuhan yang membawa Abram dari Ur-Kasdim untuk memberikan keturunan yang banyak. Untuk menegaskan janji-Nya Tuhan meminta Abram membelah lembu dan domba menjadi dua bagian. Melalui perjanjian itu Tuhan menegaskan bahwa keturunan Abram akan sangat banyak.

Zona nyaman memang selalu menjadi pilihan utama dan yang pertama bagi orang pada umumnya. Itulah nasihat bijak beberapa orang Farisi kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau” (ay 31). Tetapi tidak bagi Yesus, sekalipun sudah tergambar penderitaan, kematian dan kebangkitan yang akan Dia alami, namun Yesus tetap melanjutkan karya penyelamatan-Nya. Kata-Nya: ”Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (ay 33). Kiranya Tuhan memampukan kita untuk hidup dalam kedamaian. Tuhan memberkati.