Berkenan Di Mata Allah, Bertekun Menyatakan Keselamatan

Renungan Minggu Ini

Minggu,12 Januari 2014 (Minggu Pembaptisan Kristus)

“BERKENAN DI MATA ALLAH, BERTEKUN MENYATAKAN KESELAMATAN

( Yesaya 42:1-9; Matius 3:13-17 )

     Yesaya menggambarkan bagaimana Allah memperkenalkan hamba-Nya. Hamba yang diperkenalkan ini adalah seorang hamba yang dipilih oleh Allah sendiri, dan hamba ini berkenan dihadapan-Nya. Sebagai seorang hamba yang berkenan kepada Allah, hamba ini menjalankan tugas-Nya dengan membawa hukum kepada bangsa-bangsa. Hamba ini bekerja tidak dengan suara nyaring sebagaimana bintara memberitahukan keputusan raja. Di samping itu, hamba Tuhan ini bekerja dengan cara yang tidak otoriter dan juga tidak menggunakan kekerasan. Hamba Tuhan ini menyatakan pengharapan dan keselamatan kepada bangsa-bangsa.

Injil Matius menceritakan tentang peristiwa pembaptisan Tuhan Yesus. Di antara orang-orang yang datang ke sungai Yordan, datang pula  Yesus meminta untuk dibaptis. Tentu saja kehendak Yesus ini membuat Yohanes Pembaptis merasa tidak layak. Namun Yesus mengungkapkan: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah”. Yesus merelakan diriNya untuk dibaptis supaya kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia terselengara dan digenapi melalui diri-Nya. Dengan kata lain, pembaptisan itu semakin meneguhkan misi Tuhan Yesus untuk menyatakan keselamatan bagi manusia, agar pekerjaan Allah yang lebih besar dinyatakan melalui karyaNya. Yesus adalah Anak yang berkenan di mata Allah, Sang Bapa. Dan sesudah Ia dibaptis, melalui hidup, teladan, karya, dan ajaran-Nya, kita melihat ketekunan-Nya menyatakan keselamatan bagi umat manusia. Tuhan memberkati.

Jalan Penderitaan , Jalan Kemuliaan

Renungan Minggu Ini

Minggu,10 Februari 2013 (Minggu Transfigurasi)

"JALAN PENDERITAAN, JALAN KEMULIAAN"

( Keluaran 34:29-35; Lukas 9:28-36)

Lukas 9:29 menyaksikan, ”Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan”. Cahaya kemuliaan Allah dalam peristiwa transfigurasi Kristus adalah sesuatu yang muncul dari diriNya sendiri. Dengan demikian, kemuliaan Ilahi yang dipancarkan oleh Kristus menunjuk kepada kemuliaanNya yang telah ada sejak kekal. Kemuliaan ilahi dalam peristiwa transfigurasi Kristus merupakan pancaran kepenuhan Allah yang berdiam di dalam diriNya. Ayat 30 menyaksikan bahwa saat tubuh Kristus mengalami transfigurasi, datanglah Musa dan Elia. Kedatangan Musa dan Elia bukan sekedar percakapan tanpa arti. Sebaliknya kedatangan Musa dan Elia tersebut hendak membicarakan sesuatu yang begitu penting dan hakiki bagi karya keselamatan Allah. Ayat 31 menyaksikan isi atau misi dari kedatangan Musa dan Elia dalam peristiwa transfigurasi Kristus adalah: ”Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem”.

Tujuan utama kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk menggenapkan karya penyelamatan Allah. Dan karya itu dijalani-Nya melalui jalan penderitaan – yaitu melalui salib. Jalan yang sulit dan penuh penderitaan itu sesungguhnya adalah jalan yang memancarkan kemuliaan kasih Allah. Menjadi perenungan bagi kita, apakah dalam hidup ini kita “mau enaknya saja”? Ataukah kita juga melatih dan mempersiapkan diri untuk menderita demi sesama kita? Tuhan memberkati.

Renungan Minggu - Hari Ulang Tahun ke-82 Sinode GKJ

Renungan Minggu Ini

Minggu,17 Februari 2013 (HUT Ke-82 Sinode GKJ)

Delapan puluh dua tahun yang lalu, di Kebumen diselenggarakan sidang sinode pertama Pasamoewan Gereformeerd Djawi-Tengah, yang menandai awal perjalanan GKJ sebagai sebuah sinode mandiri. Tuhan telah membimbing para zendeling berniat dan berminat mengabarkan Injil di tanah Jawa, membentuk jemaat, dan membimbingnya dewasa. Tuhan menuntun jemaat-jemaat dewasa itu bergabung dalam klasis dan sinode. Kalau tidak berada dalam naungan perlindungan Tuhan, tidak akan terwujud.

Delapan puluh dua tahun bukan waktu sebentar. Kesukaan berganti kedukaan pasti dialami. Godaan dan tantangan mewarnai perjalanan sejarah GKJ. Namun Tuhan tetap menjagai. Sudah selayaknya jika karunia yang sedemikian besar ditanggapi dengan syukur. Syukur yang seperti apa?Bersediakah GKJ (secara lokal, klasikal, dan sinodal) tidak hanya mewujudkan ibadahnya dalam peribadahan liturgis, tetapi juga menyentuh ranah sosial? Sama seperti persembahan pertama hasil tanah orang Israel. Bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial, berbagi dengan yang membutuhkan.

Maukah GKJ menjadi gereja yang terbuka? Tidak hanya berkutat dalam lingkup GKJ, tapi juga bersanding dengan gereja dan agama lain, menghargai kesetaraan gender dan alam ciptaan Tuhan. Bisakah GKJ menjadi gereja yang rendah hati? Tidak mementingkan gengsi dan status sebagai orang yang telah diselamatkan. Sama seperti Yesus yang tidak menyalahgunakan status dan kekuasaan-Nya sebagai Anak Allah. Allah kita adalah Allah Kehidupan. Kehidupan hanya bisa terwujud dengan baik jika ada keadilan yang membawa perdamaian di dalamnya. Bagaimana dengan GKJ di usia 82 tahun ini? Mari, dalam sukacita ulang tahun dan memasuki masa Prapaskah ini, kita bertelut dalam doa, ”Allah Kehidupan, tuntunlah kami menyatakan keadilan dan perdamaian”.

Takut Tanpa Menjadi Kalut

Renungan Minggu Ini

Minggu,24 Februari 2013 (Minggu Prapaskah II)

 “TAKUT TANPA MENJADI KALUT”

( Kejadian 15:1-12, 17-21; Lukas 13:31-35 )

 Perkataan Tuhan, “Janganlah takut, Abram, …” menunjukkan keadaan Abram. Agaknya, kekhawatiran dan kecemasan yang berakibat kepada ketakutan yang sangat besar dari Abram telah menenggelamkan hidupnya menjadi orang yang tak berpengharapan. Abram berkata, “… aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak…” Secara logika atau perhitungan manusia, apa yang dikeluhkan Abram benar. Faktor usia sudah tidak memungkinkan istri Abram bisa mengandung. Itulah sebabnya, ia sudah menyiap skenario terburuk, menjadikan Eliezer budaknya sebagai ahli waris. Namun ada kuasa Tuhan yang bekerja yang tidak bisa diukur dengan logika manusia. Tuhan mengingatkan janji Tuhan yang membawa Abram dari Ur-Kasdim untuk memberikan keturunan yang banyak. Untuk menegaskan janji-Nya Tuhan meminta Abram membelah lembu dan domba menjadi dua bagian. Melalui perjanjian itu Tuhan menegaskan bahwa keturunan Abram akan sangat banyak.

Zona nyaman memang selalu menjadi pilihan utama dan yang pertama bagi orang pada umumnya. Itulah nasihat bijak beberapa orang Farisi kepada Yesus: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau” (ay 31). Tetapi tidak bagi Yesus, sekalipun sudah tergambar penderitaan, kematian dan kebangkitan yang akan Dia alami, namun Yesus tetap melanjutkan karya penyelamatan-Nya. Kata-Nya: ”Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (ay 33). Kiranya Tuhan memampukan kita untuk hidup dalam kedamaian. Tuhan memberkati.