Ketaatan dan Persaudaraan Sejati Sebagai Ibadah yang Murni

Renungan Minggu Ini

Minggu,02 September 2018 (Minggu Pertama, Minggu Biasa)

“KETAATAN DAN PERSAUDARAAN SEJATI SEBAGAI IBADAH YANG MURNI

( Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-15, 21-23 )

     Rasul Yakobus menekankan tentang iman yang hidup. Iman mengungkapkan kepercayaan dan keyakinan akan kebaikan Allah. Kebaikan Allah nampak dalam bentuk Allah yang bekerja, bertindak untuk menyelamatkan. Dengan demikian, iman juga bukan barang mati. Ia hidup dan sebagai yang hidup ia harus diungkapkan. Dalam bahasa Yakobus: “… menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja.” Ibadah bagi penulis surat Yakobus bukan sekedar ritual, tetapi harus juga nampak dalam perbuatan. Menjaga kehidupan supaya tetap berkenan kepada Allah dan melakukan perbuatan yang memuliakan Tuhan melalui yang yang dilakukan bagi sesama adalah ibadah bagi Tuhan. Arti ibadah dapat kita temukan dalam kepedulian dan perbuatan kongkret bagi sesama.

     Yesus dalam tuturan Injil Markus menjelaskan esensi dari hubungan umat dengan Tuhan dan sesama. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat memahami bahwa esensi tersebut ditemukan dalam kepatuhan pada tradisi dan ritual-ritual agama, misalnya dalam kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Dalam perspektif para ulama Yahudi, ketaatan mewujud ketika tradisi dan ritual dipegang teguh dan dijalani secara ketat. Orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan berarti membiarkan dirinya najis oleh apa yang dimakannya. Yesus, di lain pihak, memiliki perspektif yang berbeda. Dalam pandangan Yesus, ketaatan bukanlah soal kesalehan individual, melainkan mengenai kesadaran personal untuk hadir bagi sesama di ruang publik. Karena itulah Yesus katakan bahwa yang menajiskan seseorang bukanlah apa yang masuk ke dalam tubuhnya, melainkan apa yang keluar dari dirinya (sikap, perkataan, dan perbuatan). Ketika sikap, perkataan, dan perbuatan seseorang malah merusak persaudaraan di tengah masyarakat, di situlah ketidaktaatan terjadi. Ketaatan, dengan demikian, adalah ketika persaudaraan sejati dibangun. Dan itulah sejatinya ibadah seorang beriman.Dalam lingkup kehidupan berbangsa, sudahkah sikap, perkataan dan perbuatan kita membangun persaudaraan sejati dengan sesama anak bangsa? Tuhan memberkati. Amin.