HadirNya Memberdayakan Yang Lemah

Renungan Minggu Ini

Minggu, 23 Desember 2012 (Minggu Adven 4)

 "HADIR-NYA MEMBERDAYAKAN YANG LEMAH"

( Mikha 5:1-5; Lukas 1:39-55 )

 Kekuatan dan kelemahan merupakan dua sisi yang pada hakikatnya ada di dalam diri manusia.  Dalam kehidupan nyata, kekuatan dan kelemahan itu akan tampak terutama lewat keadaan atau situasi yang dialami. Contohnya, ketika orang memiliki banyak harta, memiliki kedudukan tinggi dan kekuasaan, maka biasa mendapat sebutan orang kuat. Sebaliknya, ketika orang tidak memiliki harta benda, hidupnya susah, dari segi intelektual juga amat sederhana, maka biasanya sebutannya adalah orang lemah. Berdasarkan keadaan yang demikian, tidak jarang manusia mengagungkan atau mengunggulkan kekuatannya, serta memandang sinis bahkan negatif terhadap orang-orang yang lemah. Realitas ini merupakan bukti dari ketimpangan sosial dalam masyarakat kita.  Lalu pertanyaannya apakah manusia yang lemah akan selamanya mengalami kelemahan? Adakah kekuatan yang dapat menopang dan menjadi harapan bagi orang-orang lemah?

Dalam terang bacaan-bacaan kitab suci di atas, kita akan menyoroti persoalan ini. Terutama dengan merefleksikan tentang kekuatan Allah bagi manusia yang lemah. Kelemahan yang dimaksudkan di sini tentunya tidak hanya berkisar tentang ketiadaan  bentuk-bentuk materi, melainkan juga kelemahan batin, ketertekanan jiwa, dukacita, serta bentuk-bentuk psikologis lainnya. Allah yang Mahakuat dan Mahaperkasa itu ternyata menggunakan kekuatan-Nya justru untuk melindungi dan memberdayakan yang lemah. Dalam kesederhanaan dan kelemahan manusia, yang nampak dalam Bunda Maria, Allah justru mewujudkan rencana-Nya yang besar.

Jangan Hanya Diam Menunggu HadirNya

Renungan Minggu Ini

Minggu, 16 Desember 2012 (Minggu Adven 3)

 "JANGAN HANYA DIAM MENUNGGU HADIR-NYA"

( Zefanya 3:14-20; Lukas 3:7-18 )

 Penderitaan yang datang bertubi-tubi pasti akan membuat orang terpuruk, dan menjadi putus pengharapan. Dalam keadaan putus pengharapan, orang menjadi tidak tahu apa yang harus diperbuat. Jangankan berbuat sesuatu, untuk sekedar membayangkan adanya suatu pengharapan dan perubahan saja, rasanya sudah tidak sanggup lagi. Keadaan ini membuat orang mempertanyakan keberadaan Tuhan (yang dirasa jauh sekali dari hidupnya), dan keberadaan orang lain (yang dirasa tidak peduli sama sekali). Yang terjadi kemudian adalah sikap fatalistik, menganggap bahwa inilah nasib/garis hidup mereka, yang tidak akan berubah karena sudah ditentukan oleh Allah sejak semula.

Tetapi apakah memang Allah menghendaki manusia terpuruk selama hidupnya? Apakah memang benar bahwa Allah tidak hadir dan tidak peduli kepada mereka yang tertindas? Lalu bagaimana seharusnya sikap manusia di tengah keterpurukan ini? Melalui bacaan-bacaan Kitab Suci pada minggu ini, kita belajar betapa sebenarnya Allah sangat mengasihi manusia. Allah sebenarnya telah dan senantiasa hadir dalam kehidupan manusia. Hanya saja, penderitaan dan keputusasaan membuat manusia seringkali tidak dapat merasakan kehadiran-Nya. Dengan merefleksikan firman Allah ini, kita bangkitkan pengharapan di dalam Tuhan, dan dengan pengharapan ini kita tidak hanya diam menunggu kehadiran-Nya, sebab Dia telah dan senantiasa hadir. Sekarang saatnya kita menyatakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita, menghadirkan Allah bagi sesama.

Berjaga menantikan hadirnya janji Allah

Renungan Minggu Ini

Minggu, 2 Desember 2012 (Minggu Adven 1)

BERJAGA MENANTIKAN HADIRNYA JANJI ALLAH

( Yeremia 33:14-16; Lukas 21:25-36 )

 Yeremia 33:14-16 menunjukkan janji Tuhan mengenai pembebasan Israel. Tuhan tidak melupakan janji-Nya kepada Daud mengenai takhta kerajaan Israel. Keturunan Daud akan memerintah. Yerusalem akan dipulihkan dan akan ada keadilan di sana. Nubuat pengharapan ini menunjuk pada sesuatu yang lebih jauh, yang oleh orang Kristen dipahami sebagai pemerintahan Yesus sebagai Mesias.

Pada ayat 25-36, Tuhan Yesus menyampaikan kewaspadaan para murid dengan menyampaikan tanda-tanda kedatangan Anak manusia.Tuhan Yesus menasihatkan agar murid-murid-Nya tidak terkecoh dan menjadi sesat karena pemberitaan kesudahan jaman. Yang diserukan oleh Tuhan Yesus adalah kewaspadaan. Kewaspadaan akan ada dalam diri para murid jika mereka memiliki keteguhan hati.

Minggu ini kita memasuki masa Adven yang juga disebut sebagai Tahun Baru Liturgi. Pada masa Adven, ada dua permenungan pokok yang akan kita lakukan yaitu: penantian kehadiran Tuhan untuk ke dua kalinya dan memersiapkan masa natal (kelahiran Yesus). Hari ini, kita berada pada Minggu Adven yang pertama, di mana sabda Allah hari ini menyapa kita untuk melihat kehidupan kita bersama Allah dan sesama. Bagaimana sikap kita menyambut kedatangan Tuhan yang ke dua? Melalui sabda Allah, kita akan belajar bersama bagaimana sikap orang percaya menyambut kedatangan Tuhan yang ke dua. Selamat memasuki Masa Adven-Natal (MAN) 2012. Tuhan memberkati.

Persiapkan dan Luruskanlah Jalan untuk Hadir-Nya

Renungan Minggu Ini

Minggu, 9 Desember 2012 (Minggu Adven 2)

 "PERSIAPKAN DAN LURUSKANLAH JALAN UNTUK HADIR-NYA"

( Maleakhi 3:1-4; Lukas 1:68-79, 3:1-6 )

 Bagi umat Kristen, hari natal dipahami memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia merupakan peringatan terhadap peristiwa kelahiran Kristus yang telah berlangsung pada masa lalu. Di sisi lain, ia menunjuk pada peristiwa di masa akan datang yang terus dinantikan terjadinya. Kedua makna tersebut sama pentingnya untuk dihayati. Makna yang pertama penting karena mengingatkan umat akan kehadiran Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan manusia. Peringatan terhadap hal itu memang patut dirayakan dengan sukacita karena manusia tidak sendirian (melainkan disertai Tuhan) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Makna kedua juga tidak kalah penting karena mengingatkan umat untuk menyambut kehadiran Tuhan untuk kedua kali di bumi.

Masa Adven kiranya mengarahkan umat untuk memberi perhatian yang seimbang terhadap makna Natal yang lainnya, yaitu menyambut kedatangan Kristus yang kedua kali di bumi. Masa Adven membiasakan umat berlatih mempersiapkan diri agar semakin layak dalam menyambut kehadiran Kristus yang tidak kita ketahui pasti kapan terjadinya itu. Melalui Sabda Tuhan hari ini, kita belajar untuk mempersiapkan diri, mematut dan melayakkan diri untuk menyambuh kehadiran Tuhan. Tentu saja yang dipersiapkan dan dipatut-layakkan bukan penampilan jasmani, melainkan segenap kehidupan. Kita mempersiapkan dan meluruskan jalan bagi kehadiran Tuhan melalui hidup yang senantiasa diubahkan dari hari-ke-hari. Dalam laku hidup yang selalu mawas diri dan bertobat senantiasa, kita dipersiapkan untuk menyambut kehadirannya kelak. Tuhan memberkati.

Yesus Kristus, Sang Raja Kebenaran dan Keadilan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 25 November 2012 ( Minggu Kristus Raja )

 “YESUS KRISTUS, SANG RAJA KEBENARAN DAN KEADILAN

(II Samuel 23:1-7; Yohanes 18:33-37 )

 Pertanyaan Pilatus kepada Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes 18:38a ”Apakah kebenaran itu?” patut diduga merupakan tanda awal dari keterusikan Pontius Pilatus terhadap status yang kerap kali dilekatkan pada Yesus. Hal tersebut dapat dirunut dari pertanyaan awal Pontius Pilatus kepada Tuhan Yesus : ”Engkau inikah raja orang Yahudi?” Jawaban Tuhan Yesus justru berupa pertanyaan: ”Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku?”

Jawaban Yesus terhadap pertanyaan Pontius Pilatus kemudian, merupakan ungkapan pernyataan bahwa misi Kristus, Sang Raja, adalah menghadirkan kerajaan Allah. Kerajaan-Nya adalah kerajaan kebenaran dan keadilan. Kerajaan-Nya adalah nilai-nilai kasih dan damai sejahtera. Di tengah penindasan dan ketidakadilan yang dialami bangsa-Nya, Yesus hadir menyatakan nilai-nilai Illahi yang semestinya menjadi pedoman bagi bangsa itu – dan bagi umat beriman sepanjang masa.

Minggu Hari Raya Kristus Raja adalah pesta penutup tahun liturgi. Tahun liturgi Kristen diawali hari Minggu Adven 1 dan diakhiri dengan Minggu Kristus Raja. Hari raya ini selalu jatuh pada hari Minggu antara tanggal 20-26 November setiap tahun. Pada Minggu Kristus Raja, kita merayakan gelar-gelar “Raja” yang disandang oleh Tuhan Yesus Kristus. Dalam terang itu, kita diajak menghayati ke-Raja-an Kristus dalam diri umat-Nya. Selamat menutup tahun liturgi 2011-2012 dengan komitmen untuk menjadikan Kristus sebagai Raja hidup kita!