Tetaplah Setia, Juga dalam Penderitaan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 18 November 2012 ( Minggu Biasa )

 “TETAPLAH SETIA, JUGA DALAM PENDERITAAN!”

(I Samuel 1:4-20; Markus 13:1-8 )

 Dalam hidup, manusia mendambakan diterima dan dihargai oleh sesama sehingga damai sejahtera. Namun tidak selamanya manusia memperoleh tanggapan dan perlakuan yang baik sehingga menderita. Diperlukan sikap hidup yang bijaksana dan penyerahan diri kepada Tuhan dalam menghadapi kenyataan.

Meski memperoleh perlakuan yang tidak baik dari sesama dalam lingkungan terdekat, namun Hana sebagai salah satu isteri Elkana mampu mengungkapkan suasana hati yang remuk-redam kepada Tuhan dengan doa dan bahkan menyampaikan suatu janji kepada Tuhan bila lepas dari penderitaan batinnya.

Tuhan Yesus menubuatkan adanya permulaan penderitaan menjelang zaman baru dengan adanya kesesatan yang diperbuat banyak orang yang memakai nama Tuhan. Akan ada banyak perang antar bangsa dan bencana. Oleh karena itu murid-murid harus waspada dan tidak perlu gelisah agar tidak disesatkan oleh peristiwa yang terjadi.

Jika kita mengalami penderitaan oleh karena perbuatan pihak lain, mari kita belajar untuk tidak menjadikan penderitaan itu sebagai penghambat bagi iman dan kesetiaan kita kepada Allah. Namun, mari kita kelola kehidupan ini dengan kesadaran bahwa penderitaan diizinkan oleh Allah untuk menunjukkan kualitas rohani yang baik. Tuhan kiranya memampukan kita menjadi orang yang tetap menghargai sesama dengan kasih Tuhan.

Memberi Sepenuh Diri Demi Karya Allah

Renungan Minggu Ini

Minggu, 11 November 2012 ( Minggu Biasa )

 

“MEMBERI SEPENUH DIRI DEMI KARYA ALLAH”

( Rut 3:1-3;4:13-17; Markus 12:38-44 )

 

Tindakan Naomi mencarikan suami bagi Rut dan kesediaan Boas memperisteri Rut menggambarkan kepedulian di antara mereka. Hal ini diakhiri dengan sebuah keterangan bahwa anak Boas dan Rut adalah kakek Daud. Keterangan ini menunjukkan bahwa inilah jalan Allah berkarya di tengah bangsa Israel hingga nantinya membangkitkan raja yang mulia di tengah-tengah mereka. Dalam Injil Markus, Yesus mengajarkan supaya tidak meniru para ahli Taurat yang tampak manis secara lahiriah, tetapi bertindak yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Hal itu dapat dikontraskan dengan persembahan janda miskin. Dia seorang biasa yang memberikan persembahan apa adanya. Justru yang demikianlah yang menjadi teladan ungkapan syukur yang benar.

Baik sang Janda Miskin maupun Rut memberikan teladan kepada kita akan dua makna memberi diri, yaitu : (1) Totalitas, dan (2) Dampak. Ketika seseorang memberi dirinya penuh untuk melayani kehendak Tuhan, maka seberapa pun kecil atau remeh pemberian itu, pasti akan berdampak sebagai jalan bagi karya Allah di dunia. Sang Janda Miskin mempersembahkan “seluruh nafkahnya”, sedangkan Rut memberikan “seluruh dirinya”. Dari kedua persembahan ini, karya Allah dinyatakan. Seberapa pun kecil yang bisa kita persembahkan, Tuhan tidak pernah mempersoalkannya. Karena memang di mata Tuhan tidak penting seberapa besar-kecil atau banyak-sedikit yang bisa kita persembahkan. Yang terpenting adalah totalitas dari persembahan itu, sehingga karya Allah mewujud melaluinya. Terlebih ketika kita mau terus belajar mempersembahkan diri dan kehidupan sebagai persembahan bagi-Nya. Tuhan memberkati.

Hidup Setia dan jujur, Pintu Gerbang Pemulihan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 28 Oktober 2012

(Hari Reformasi Gereja, Penutupan Bulan Keluarga 2012)

HIDUP SETIA DAN JUJUR, PINTU GERBANG PEMULIHAN

( Ayub 42:1-6, 10-17; Markus 10:46-52 )

 Ada banyak persoalan yang bisa muncul dalam hidup berkeluarga. Perselisihan kecil hingga cekcok yang besar. Masalah pengelolaan keuangan hingga masalah cara mendidik anak. Dan rupa-rupa persoalan lainnya. Tidak jarang, akumulasi persoalan-persoalan itu membuat tidak nyaman – bahkan melukai – anggota-anggota keluarga. Apa pun usaha yang dilakukan, tidak akan menemui penyelesaian, jika tanpa kejujuran dan kesetiaan. Dalam kejujuran ada keterbukaan dan penerimaan – menghargai yang orang lain pikirkan dan rasakan. Dalam kesetiaan ada kepercayaan – memercayai bahwa orang lain punya niat baik untuk menyelesaikan persoalan.

Kesetiaan dan kejujuran Ayub di hadapan Allah membawa pemulihan bagi dirinya. Kasih Allah pun dinyatakan bagi Ayub yang tetap setia. Kondisinya dipulihkan. Sakitnya disembuhkan. Bahkan ia menerima kembali harta dan keluarga yang berkali-kali lipat diri sebelumnya. Mengiringi kejujuran dan kesetiaan hidup, hadirlah kemurahan Allah yang memulihkan.

Keteguhan hati Bartimeus yang buta untuk memohon pertolongan dari sang Anak Daud (berarti ia memercayai Yesus sebagai “Sang Mesias”), berbuah manis. Yesus pun berkenan menyembuhkannya. Satu hal menarik bisa kita simak dalam peristiwa ini, yaitu bahwa Yesus merasa perlu untuk bertanya kepada Bartimeus, apa yang diinginkannya. Rupanya Yesus ingin menyaksikan kejujuran dan keterbukaan Bartimeus. Allah menghargai sikap Bartimeus yang terus terang dan rendah hati. Ia pun dipulihkan.

Persoalan keluarga pun akan terselesaikan ketika kita mau datang kepada Tuhan untuk memohon solusi yang terbaik. Namun, satu hal yang perlu kita perhatikan : datanglah kepada-Nya dengan kejujuran dan kesetiaan yang total – jangan ada yang ditutup-tutupi. Tuhan memberkati.

Membuka Gerbang Kerajaan Allah

Renungan Minggu Ini

Minggu, 4 November 2012

(Minggu Biasa)

 “MEMBUKA GERBANG KERAJAAN ALLAH”

(Rut 1:1-18; Markus 12:28-34 )

 Rut adalah seorang perempuan bangsa Moab yang ikut Naomi mertuanya, kembali ke Betlehem (Israel).  Ketika Naomi mengambil keputusan untuk kembali ke Betlehem, ia menyarankan Rut tidak ikut dengan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal. Tetapi Rut tetap pada pendiriannya yang kuat yaitu mengikuti Naomi. Hal ini nampak dari pernyataan Rut: ”…bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku….” Meskipun kenyataannya Naomi berkebangsaan Israel dan Rut berkebangsaan Moab, namun Rut mengakui bahwa kebangsaan Naomi juga bangsa Rut. Demikian juga pengakuan tentang Allah. Allah Naomi juga diakui sebagai Allah Rut.

Dalam Markus 12:34 dinyatakan ”Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah! Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.” Pernyataan Markus terhadap ahli Taurat tersebut sangat positif. Ketika ahli Taurat menyatakan bahwa makna kasih kepada Allah dijabarkan dan diwujudkan ke dalam kasih kepada sesama, maka tindakan kasih lebih utama dari pada tindakan ritual keagamaan seperti mempersembahkan korban bakaran dan korban sembelihan. Ahli Taurat tersebut berkata: ”Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Markus 12:33). Ahli Taurat tersebut mampu menangkap inti hukum yang utama dan paling mendasar dari kasih sebagaimana yang dimaksudkan oleh kitab Taurat dan Tuhan Yesus.

Kerajaan Allah tidak mungkin dapat dibangun dengan ritual keagamaan atau berbagai persembahan yang paling mahal sekalipun. Kiranya kita dimampukan untuk membuka gerbang Kerajaan Allah melalui hidup kita.

Hidup Jujur dan Setia sebagai Penyangkalan Diri

Renungan Minggu Ini

Minggu, 21 Oktober 2012 (Bulan Keluarga 2012)

 “HIDUP JUJUR DAN SETIA SEBAGAI PENYANGKALAN DIRI”

( Yesaya 53:4-12; Markus 10:35-45)

Hamba yang menderita adalah seorang yang jujur. Ia tidak memiliki cacat dan cela. Tetapi ia mau menyangkal diri dan menjadikan dirinya kurban bagi orang-orang yang berdosa. Secara gamblang dinyatakan: ”Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” Ia dikurbankan seperti domba yang kelu, tidak berdaya di hadapan orang-orang yang hendak menggunting bulunya dan akhirnya mati. Tetapi pengorbanan hamba yang jujur itu berdampak pada umat manusia (Yesaya 53:9). Karena itu, Tuhan memberikan penghargaan bagi hamba yang jujur itu dan namanya dikenang oleh banyak orang.

Yakobus dan Yohanes adalah anak-anak dari Zebedeus dan kedua saudara itu meminta hal yang sama pada Yesus, guru-Nya. Mereka meminta kemuliaan berupa kekuasaan. Terhadap permintaan kedua saudara sedarah itu, Tuhan Yesus menjawab dengan suatu pertanyaan tantangan(ayat 38). Yesus menantang sekaligus mengingatkan apa artinya mengikuti Dia dalam kemuliaan-Nya. Mengikut Yesus berarti justru menyangkal diri, meninggalkan kemuliaan duniawi dan menempuh jalan kasih dan penderitaan sebagaimana Yesus jalani.

Sikap yang dikehendaki Allah adalah kesediaan untuk melayani. Melayani berarti berani meninggalkan sikap ambisius. Bahaya dari sikap ambisius adalah pengutamaan diri – yang adalah “musuh” dari penyangkalan diri. Dalam pengutamaan diri sering terjadi tindakan-tindakan seperti kekerasan, ketidakjujuran, menghalalkan segala cara demi pemenuhan ambisi pribadi. Kesetiaan dan kejujuran terlupakan ketika orang mementingkan dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika kita menyadari panggilan untuk menyangkal diri, maka hidup jujur dan setia adalah salah satu wujudnya. Tuhan memberkati dan memampukan.