Menjadi Pelaku Firman

Renungan Minggu Ini

Minggu, 2 September 2012 (Minggu Biasa)

"MENJADI PELAKU FIRMAN"

 ( Yakobus 1:17-27; Markus 7:1-8, 14-15, 21-23 )

Yakobus menekankan mengenai pentingnya menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar. Menurut Yakobus, orang yang hanya menjadi pendengar firman akan cepat lupa isi firman itu. Menjadi pelaku firman bisa melalui perkataan, misalnya lambat untuk berkata-kata, lambat untuk marah, dan mengekang lidah. Selain itu juga melalui perbuatan, antara lain tindakan kasih sebagai wujud ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Tuhan. 

Orang Farisi dan ahli Taurat mempertanyakan tindakan murid Yesus yang mengabaikan adat istiadat, misalnya tidak mencuci tangan sebelum makan. Yesus mengingatkan mereka agar adat istiadat jangan mengalahkan hal yang lebih utama, yaitu perintah Tuhan. Mereka lebih memperhatikan tata cara mencuci tangan sebelum makan dan mencuci peralatan memasak, daripada firman Tuhan seperti larangan mencuri, membunuh, memfitnah, dan percabulan.

Sejarah mencatat bahwa dalam perjalanan hidupnya, manusia kadang tidak setia kepada Tuhan, yaitu dengan cara tidak mematuhi firman-Nya. Padahal firman telah diperdengarkan kepada manusia melalui berbagai media. Seharusnya manusia menyadari bahwa firman adalah penuntun jalan kehidupan menuju masa depan yang gemilang. Namun manusia sering tidak mengutamakan firman, bahkan cenderung mudah melupakannya. Mengapa bisa demikian? Karena firman hanya didengar dan bukan dilakukan. Dengan demikian manusia mudah lupa akan firman itu. Melalui Firman Tuhan pada hari ini kita diajak untuk memahami pentingnya menjadi pelaku firman dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi pelaku Firman Tuhan bukanlah proses instant. Perlu proses terus-menerus agar kita terus diperbarui dan diperbaiki oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Tuhan memberkati.

 

Kuasa Tuhan demi Kesejahteraan Sesama

Renungan Minggu Ini

Minggu, 29 Juli 2012 (Minggu Biasa)

 "KUASA TUHAN DEMI KESEJAHTERAAN SESAMA"

 (II Raja-raja 4:42-44; Yohanes 6:1-21)

Berbicara tentang orang yang berkuasa, melalui bacaan Injil kita berjumpa dengan pribadi yang mempunyai kekuasaan tidak terbatas, yaitu Yesus Kristus. Ketika Yesus mengajar, terdapat lebih dari lima ribu orang yang hadir mendengarkan khotbah Yesus. Mengingat waktu makan telah tiba, Yesus menyuruh para murid menyediakan makan bagi mereka. Karena tidak ada persediaan makanan yang cukup untuk orang sebanyak itu, Yesus membuat mujizat. Hanya dengan lima roti dan dua ekor ikan, Yesus mengenyangkan lebih dari lima ribu orang yang hadir pada saat itu. 

Setelah melakukan mujizat yang luar biasa itu, Yesus melakukan hal lain yang tidak kalah menakjubkan. Ia berjalan di atas air danau Galilea yang saat itu ombaknya cukup besar. Dua hal itu membuktikan bahwa kuasa Yesus tidak terbatas. Ia berkuasa atas apapun, termasuk atas alam. Sampai-sampai banyak orang ingin membawa Yesus dengan paksa untuk menjadikan Dia raja (Yoh 6:14,15). 

Kita perlu memahami bahwa setiap anak-anak Tuhan diperlengkapi dengan berbagai kemampuan agar bisa menjadi berkat bagi sesama. Nah, belajar dari pengalaman di atas, maka segala kemampuan, potensi atau kuasa dari Tuhan  harus betul-betul dipergunakan untuk kesejahteraan bersama. Bukan sebaliknya, dipergunakan dengan sewenang-wenang. Tuhan Yesus telah memberikan teladan bagi kita semua, tentang penggunaan kuasa, kemampuan, atau potensi yang Ia miliki, yaitu dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama. Yesus tidak melakukan sendirian. Ia mengajak para murid untuk mewujudnyatakan kuasa-Nya itu. Akibatnya sungguh luar biasa! Jika setiap anak-anak Tuhan mau bersehati, bekerja bersama-sama, dan mensinergikan kemampuan yang dimiliki, maka hasilnya akan sangat bermanfaat bagi masa depan gereja dan kesejahteraan bersama. Tuhan memberkati.

 

Rela Berkorban demi Melayani Tuhan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 15 Juli 2012 (Minggu Biasa)

"RELA BERKORBAN DEMI MELAYANI TUHAN"

 (II Samuel 6:1-5, 12b-19; Markus 6:14-29)

Kesetiaan Daud kepada Allah ditunjukkan dengan memboyong tabut perjanjian dari Baale-Yehuda ke Yerusalem (ayat 2). Tabut adalah wadah untuk meletakkan loh-loh batu, tongkat Harun dan manna. Barang-barang pengisi tabut itu terkesan tidak istimewa, tetapi sejarah yang melatar-belakangi tabut tersebut yang justru istimewa. Tabut itu merupakan simbol kepemimpinan Allah terhadap bangsa pilihan. Simbol itulah yang dibutuhkan Daud selama menjadi pemimpin Israel sehingga tindakan memboyong tabut ke Yerusalem merupakan wujud upaya Daud dekat dengan Allah (ayat 5, 15-16, 17). Intinya adalah tindakan Daud dan rakyatnya membawa tabut ke Yerusalem merupakan tanda dan wujud kesetiaan mereka terhadap Allah yang memerintah atas Israel.

Kisah dalam Injil Markus 6:14-26 merupakan flash back kejadian dibunuhnya Yohanes Pembaptis oleh Herodes. Terjadinya penceritaan masa lalu tersebut karena banyak orang menganggap bahwa Yesus adalah kebangkitan Yohanes Pembaptis. Orang banyak beranggapan demikian karena dalam diri Yesus juga terdapat keberanian berbicara atas nama kebenaran seperti yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Yesus juga tidak takut terhadap penguasa duniawi, persis seperti yang dilakukan Yohanes Pembaptis manakala dia melihat ada ketidak-beresan hubungan Herodias dan Herodes. Inti pengajaran Injil tersebut adalah Yohanes setia melakukan tugasnya yaitu untuk menyuarakan suara kenabian di tengah kondisi tidak benar dan siap sedia menanggung segala resiko atas tugas perutusannya.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita siap berkorban demi melayani Tuhan? Mari kita mulai dari lingkup yang terdekat, yaitu keluarga kita masing-masing. Tuhan memberkati.

 

Tuhan Bersemayam dalam belas kasih

Renungan Minggu Ini

Minggu, 22 Juli 2012 (Minggu Biasa)

 "TUHAN BERSEMAYAM DALAM BELAS KASIH"

 (II Samuel 7:1-14a; Markus 6:30-34, 53-56)

 Tuhan Yesus berbelas kasih terhadap sejumlah besar orang banyak yang selalu mengikuti kemana Ia pergi.  Kendati mengalami kelelahan dan membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah pelayanan yang begitu intens, namun karena belas kasih-Nya maka Ia setia melayani orang banyak  yang membutuhkan pengajaran-Nya. Demikian halnya ketika sampai di Genesaret, berbondong-bondong orang mengusung sanak-saudara mereka yang sakit di tepian jalan, karena mereka yakin akan sembuh hanya dengan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan merekapun menjadi sembuh. Tuhan Yesus terharu oleh kesederhanaan iman mereka sehingga mereka disembuhkan dari sakitnya.

Sebuah nyanyian meditatif dari Taize, gubahan Jacques Berthier (1978), mengungkapkan, “Ubi caritas et amor, ubi caritas, Deus ibi est” yang dalam versi bahasa Indonesia dialihbahasakan menjadi, “Di dalam cinta dan kasih, di dalam cinta, hadirlah Tuhan.”Ya, Tuhan bukanlah illah sesembahan bangsa-bangsa yang berdiam di dalam kuil-kuil berhala. Tuhan bukan pula seperti dewa-dewi Yunani yang bersemayam dalam kuil Parthenon di Athena. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup, sumber cinta kasih, dan tentunya bersemayam atau bertakhta dalam cinta kasih. Persisnya, dalam hati dan diri yang penuh dengan belas kasih. Karena itulah, Allah tidak berkenan ketika Daud berniat mendirikan rumah persemayaman bagi-Nya di tengah bangsa Israel. Bagi Allah, ketika kehidupan Daud menunjukkan ketaatan dan kepemimpinan yang berwelas asih kepada rakyatnya, di sanalah Allah bertakhta.

Bagaimana dengan kita sebagai umat Tuhan? Sudahkah kita mempersembahkan tempat persemayaman bagi Tuhan dalam diri kita? Kalau kita ingin Allah berkuasa atas hidup kita, tak ada cara lain kecuali membangun karakter diri yang penuh dengan belas kasih (welas asih) bagi sesama. Tuhan memberkati.

Diutus oleh Anugerah-Nya

Renungan Minggu Ini

Minggu, 8 Juli 2012 (Minggu Biasa)

"DIUTUS OLEH ANUGERAH-NYA"

 (II Samuel 5:1-5, 9-10; Markus 6:1-13)

 Kata “anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam perspektif iman,  makna kata anugerah tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar umat senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, mereka harus “menerima” Tuhan dengan kesungguhan.

Menerima Tuhan menjadi pemimpin dalam hidup orang percaya, bukan berarti menjadikan Tuhan sebagai milik personal yang eksklusif dan tidak dapat dibagikan kepada yang lain. Anugerah yang diterima orang percaya harus dirasakan pula oleh sesama, sebagai perwujudan kasih yang sejati seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Relasi yang harmonis antara orang percaya dengan Tuhan berdampak terhadap kehidupan yang dilingkupi anugerah. Anugerah tersebut memang menjadi hak milik personal namun harus dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama – dari personal menuju universal – (II Samuel 5: 1-5, 9-10). Dengan demikian bangunan spiritualitas menghamba dan semangat “kemiskinan” menjadi hal utama untuk diupayakan, sehingga anugerah Tuhan senantiasa dicurahkan bagi umat (Markus 6: 1-13).

Anugerah Tuhan sifatnya universal. Anugerah itu harus dibagikan kepada sesama, dan anugerah tersebut akan dirasakan manfaatnya oleh sesama tatkala umat memiliki spritualitas menghamba seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus. Ketika kita menyadari sungguh bahwa seluruh kehidupan kita adalah sebuah perutusan untuk memberitakan damai sejahtera bagi sesama – hanya oleh anugerah-Nya. Tuhan memberkati.