Iman menuntun kepada kemurahan hati

Renungan Minggu Ini

Minggu, 1 Juli 2012 (Minggu Biasa)

"IMAN MENUNTUN KEPADA KEMURAHAN HATI"

 (II Samuel 1:1,17-27; Markus 5:21-43)

 Manusia menjalani hidup ini tidak pernah sepi dari beban persoalan hidup. Sampai akhirnya akan berhenti persoalan itu jika manusia sampai pada akhir hayatnya. Dalam konteks inilah kerap kali manusia ketika masih hidup dibuat letih, sedih, kecewa, sakit hati oleh karena persoalan demi persoalan yang dihadapinya. Sekarang bisa tertawa esok bisa menangis, sekarang memiliki esok kehilangan.

 Manusia yang hidup sesungguhnya juga memahami jika pasti akan mengalami persoalan, akan tetapi benar bahwa persoalan itu ketika menimpa manusia akan membuat manusia itu sendiri berbeban. Hanya saja kadang manusia itu dapat mengambil keputusan atau tindakan yang salah. Maka ia haruslah senantiasa percaya kepada Allah.

 Tuhan Allah adalah pemilik segala sesuatunya, bahkan nyawapun Tuhan yang memberikan bagi manusia. Kehadiran Yesus di dunia ini menjadi bukti nyata atas Allah yang memiliki segala sesuatunya itu. Ia tidak hanya menyembuhkan, namun juga menghidupkan. Oleh karena itu manusia harus percaya kepada Yesus Sang  Kehidupan itu.

 Jika Injil Markus memberikan penguatan bagi manusia itu karena iman dan percaya kepada Kristus, dan manusia dimampukan untuk menyaksikan kemahakuasaan Kristus, maka manusia sudah semestinya perlu mempercayakan kehidupannya kepada pimpinan Kristus. Realita yang dialami manusia memungkinkan manusia bisa sedih karena kehilangan, akan tetapi kehilangan itu kalau ditempatkan dalam iman kepada Tuhan maka sesungguhnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mari teguhkan iman kita. Ketika iman teguh, kita akan menyaksikan kemurahan hati Allah. Tuhan memberkati.

Tenang dalam Perlindungan Tuhan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 24Juni 2012 (Minggu Biasa)

TENANG DALAM PERLINDUNGAN TUHAN

 (I Samuel 17:32-49; Mazmur 9:9-20; II Korintus 6:1-13; Markus 4:35-41)

Penderitaan dan permasalahan hidup merupakan sebuah realita yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia yang hidup di tengah dunia ini. Siapa pun orangnya pasti pernah mengalami permalahan baik masalah yang ringan sampai masalah yang berat. Ketika penderitaan atau permasalahan hidup menimpa seseorang maka ada dampak yang muncul. Dampak tersebut bisa dampak positif tetapi juga bisa dampak negatif. Dampak positif apabila dalam penderitaan tersebut orang dapat menghayati sabagai sarana Tuhan sedang menyatakan karyaNya di tengah umat. Dampak negatif, apabila dalam penderitaan orang tidak kuat menanggungnya dan berusaha dengan kekuataanya sendiri tidak bisa menghadapi permasalahan sehingga manjadi orang yang pesimis, marah bahkan putus-asa. Oleh karena permasalahan hidup manusia merupakan sebuah realita yang pasti terjadi dalam kehidupan manusia, maka manusia perlu belajar untuk memahami penderitaan itu sebagai bagian dari dinamika kehidupan bersama Tuhan.

Pengajaran Tuhan Yesus kepada para murid melalui realita kehidupan yang sesungguhnya mengingatkan kepada kita akan keberadaan Allah yang tidak pernah jauh dari dalam kehidupan kita. Kesulitan apa pun juga yang sedang kita hadapi tidak akan mengakibatkan dampak negatif kepada diri kita karena dalam permasalahan yang sedang kita hadapi Tuhan selalu bersama dengan kita. Tuhan tidak akan membiarkan orang yang berteriak minta tolong kepada Dia. Iman yang hidup akan senantiasa memampukan kita untuk memahami bahwa Allah itu ada dan hadir. Sehingga dalam situasi menekan sekalipun Allah akan memberikan pertolongan kepada setiap orang yang berseru kepadaNya. Jika Allah selalu bersama dengan kita, apa yang perlu kita takutkan? Tidak ada. Bersama-Nya, kita akan senantiasa dimampukan untuk hidup dalam damai. Tenang dalam perlindungan Tuhan. Tuhan memberkati.

Persaudaraan dalam Ketaatan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 10Juni 2012 (Minggu Biasa)

PERSAUDARAAN DALAM KETAATAN

(I Samuel 8:4-20; Mazmur 138; II Korintus 4:13 – 5:1; Markus 3:20-35)

Akhir-akhir ini paham tentang teologi sukses menjadi sebuah paham yang menarik. Menurut Ir. Herlianto, M.Th., seorang teolog yang kerap menyoroti berbagai pandangan teologi yang berkembang di tengah umat, teologi sukses adalah teologi yang menekankan bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha besar, kaya, dan penuh berkat. Manusia yang beriman akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula; kaya, sukses, dan berkelimpahan materi. Pemahaman yang demikian akan membawa pada sebuah orientasi yang menekankan pada sebuah kesuksesan secara duniawi dan dapat mengakibatkan “penghakiman” bahwa orang yang tidak mengalami kelimpahan berkat dan kesuksesan duniawi adalah orang yang tidak beriman.

Apakah memang benar orang beriman pasti akan mengalami kesuksesan dan keberhasilan duniawi? Menjadi pengikut Yesus tidak identik dengan kesuksesan duniawi melainkan justru penderitaan. Penderitaan ini dapat disebabkan berbagai macam hal. Bisa disebabkan karena berbuat benar atau terputus hubungan dengan saudara atau keluarga. Menjadi pengikut Yesus harus sadar bahwa keputusan yang diambilnya dapat membawa pada sebuah konsekuensi yang tidak ringan.

Paulus dalam suratnya mengajak dan memberikan dorongan agar jemaat tetap setia walaupun dalam hidup yang dijalaninya harus mengalami penderitaan. Jemaat diajak untuk melihat hal yang akan diterimanya pada kehidupan kekal. Oleh karena itu tidak perlu menjadi tawar hati. Penderitaan karena melakukan kehendak Allah mendatangkan kemuliaan yang kekal.

Pada akhirnya, kita diajak untuk membangun persaudaraan yang benar, yaitu persaudaraan dalam ketaatan akan kehendak Allah. Ketaatan semacam inilah yang Roh Kudus kehendaki dalam hidup kita.

Memandang dengan Mata Tuhan

Renungan Minggu Ini

Minggu, 17Juni 2012 (Minggu Biasa)

MEMANDANG DENGAN MATA TUHAN

(I Samuel 15 :34-16:13; Mazmur 20:1-10; II Korintus 5:6-10,14-17; Markus 4:26-34)

Manusia dianugerahi Tuhan rasio maupun ketrampilan. Digunakan untuk mengelola hidup pemberian Tuhan. Karenanya, manusia bisa mempertahankan hidup dengan bertanggung jawab. Di sisi lain ada kuasa di luar manusia, yakni Tuhan. Hidup manusia tidak dalam genggaman keputusannya, tapi juga keputusan Allah pemberi hidup. Maka manusia perlu memberi tempat Allah berkarya. Bagi orang beriman, tempat Allah berkarya justru lebih besar porsinya daripada bagi manusia. Berarti mengutamakan kuasa Allah disbanding manusia.

Samuel hampir terjatuh pada akal manusiawi, sebelum Allah mengingatkannya. Sebagai utusan Allah, dia mengikuti kehendak Allah. Maka terpilihlah Daud sebagai Raja Israel pengganti Raja Saul. Kehendak Allah diikuti, maka berhasillah proses pemanggilan raja. Pujian dalam Mazmur menyatakan kemenangan Raja atas musuhnya karena kuasa Allah. Musuh bermegah secara lahiriah melalui pasukan kuda, dikalahkan sang Raja. Terjadi karena Raja bermegah di dalam nama Allah.

Orang Kristen bermegah dalam rohaninya. Perilaku benar wajib diwujudkan, perilaku jahat disingkirkan. Ibaratnya ciptaan lama yang sudah berlalu. Yang berlalu biarlah berlalu jangan dipakai lagi. Sekarang sebagai ciptaan baru. Yakni pola hidup berdasarkan iman kepada Yesus Kristus, serta melakukan firman-Nya.

Kerajaan Allah selalu berkarya dalam hidup orang beriman. Mungkinkah manusia mengetahui cara kerja Allah? Perumpamaan biji sesawi menunjukkan cara kerja Allah yang tidak diketahui manusia. Kapanpun dan dimanapun terus bekerja. Meski tidak diketahui, Kerajaan Allah tetap memerintah dan bekerja untuk keselamatan dan sejahtera seluruh makluk. Tuhan memberkati.

Bapa, Anak dan Roh Kudus berkarya membangun Jemaat

Renungan Minggu Ini

Minggu, 3Juni 2012 (Minggu Trinitas)

BAPA, ANAK, DAN ROH KUDUS, BERKARYA MEMBANGUN JEMAAT

(Yesaya 6:1-8; Mazmur 29; Roma 8:12-17; Yohanes 3:1-17)

Gereja sebagai sebuah kehidupan bersama tentu mengalami pasang surut kehidupan. Di tengah-tengah tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, kita sebagai gereja Tuhan diajak untuk senantiasa bersaksi tentang Allah Trinitas dan karya-Nya. Kesaksian itu tidak hanya secara lisan tetapi juga melalui seluruh kehidupan gereja dan orang percaya secara pribadi.

Pada Minggu Trinitas ini kita diajak untuk merenungkan kembali karya Allah Tritunggal dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai gereja/jemaat Tuhan. Allah yang telah menyelamatkan umat-Nya melalui Yesus Kristus telah menghimpun kita orang-orang percaya sebagai gereja. Ia juga yang menetapkan Kristus sebagai Kepala Gereja dan mengaruniakan Roh Kudus untuk membimbing dan menyertai umat di tengah-tengah tantangan jaman. Dengan demikian, gereja mampu semakin bertumbuh dan mewujudnyatakan Kerajaan Allah di dunia ini.

Namun karya Allah Trinitas ini membutuhkan tanggapan umat yang penuh percaya, yang mau membiarkan dirinya dipimpin oleh Sang Kepala Gereja dan dituntun oleh Roh Kudus. Kotbah ini bertujuan agar setiap orang percaya maupun jemaat Tuhan mampu menjelaskan tentang Allah Trinitas, menghayati dan mewujudnyatakan karya Allah Trinitas dalam kehidupan mereka.