Renungan Minggu Ini 10April 2022
(Minggu Palma, Minggu Kedua)
“KASIH YANG KONSISTEN"
(Yesaya 50: 40-9a dan Lukas 23: 1-49)
Salah satu karakter yang kuat dalam Minggu Palma adalah mengenai inkonsistensi umat Yerusalem saat itu. Ada sukacita penyambutan Yesus dengan daun palma, namun juga sebuah petaka yang diikuti dengan caci maki, penyiksaan bahkan tragedy penyaliban Yesus. Pada Minggu Palma ini, kita sepatutnya bertanya pada diri kita sendiri,
1. “Apakah kasih kita pada Allah adalah kasih yang konsisten?” Kasih yang tetap, tidak berubah ke ekstrem yang berseberangan.yaitu kasih yang tidak berubah walau situasi kehidupan sedang berubah.
2. 2 “Apakah kasih kita pada Allah sungguh konsisten?” Dalam artian, ada keselarasan antara iman kita dengan perbuatan sehari-hari.
Bukankah manusia begitu mudah menjadi tidak konsisten jika hal yang tidak diharapkan terjadi? Dari Hosiana lalu berubah menjadi Salibkah Dia!?Nabi Yesaya agaknya juga memahami kecenderungan manusia yang sulit untuk konsisten. Yang cenderung egois ketika situasi tidak seperti yang diinginkannya. Pada saat itu, bangsa Israel hidup dalam situasi pembuangan dan kehidupan macam itu berpotensi menguji kasih mereka kepada Allah. Karenanya, Yesaya mengingatkan untuk memiliki lidah seorang murid dan mendengar sebagai seorang murid untuk terus setia dan konsisten sebagai murid dalam situasi yang tidak mudah. Maka pada Minggu Palma ini, kita diajak untuk menyadari betapa lemahnya kasih kita pada Allah, sebaliknya, kasih-Nya konsisten sejak dulu sampai selama-lamanya. Amin.
Renungan Minggu Ini 3April 2022
(Minggu Pra Paskah V, Minggu Pertama)
“KASIH PENGORBANAN YANG MENDORONG PERUBAHAN "
(Filipi 3 : 4b-14 dan Yohanes 12 : 1-8)
Dengan berbagai macam cara Tuhan menyatakan kasih-Nya. Dia menyatakan pengampunan terhadap masa lalu kita yang penuh dosa. Dengan kasih, Dia menutup seluruh keburukan kita.
Apa jadinya jika Tuhan yang Maha Tahu itu membuka aib kita di hadapan banyak orang, siapa yang dapat tahan?
Karena kasih, Paulus dan Maria mengalami perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan mereka dengan Yesus mengubah pola hidup. Perubahan itu membuat orientasi hidup mereka bukan lagi hal keduniawian. Totalitas hidup untuk Kristus dengan selalu mencari kehendak Kristus, itulah bentuk hidup baru mereka setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus.
Kalau Tuhan sedemikian kasih kepada umat-Nya, apa jawab kita sebagai wujud syukur atas kasih-Nya itu?
Apakah kita akan jumawa dan jatuh pada retorika belaka bahwa sebagai umat-Nya aku pasti dikasihi. Atau ada kerinduan dari kita untuk hidup baru, hidup yang selalu rindu mencari dan terus mencari kehendak-Nya? Adakah totalitas diri dalam pengharapan hidup baru, seperti totalitas Kristus mengorbankan nyawa-Nya? Amin.
Renungan Minggu Ini 20Maret 2022
(Minggu Pra Paskah III, Minggu Ketiga)
“BERHENTI MENGHAKIMI, LIHAT DIRI SENDIRI!"
(Kejadian 15:1-18 dan Lukas 13:31-35)
Saudaraku, melalui bacaan pertama, kita mengetahui bagaimana bangsa Israel hidup. Bangsa Israel hidup, seolah mereka telah melakukan hal-hal baik yang diperintahkan Allah. Namun, jika kita perhatikan pada ayat ke 5, kita tahu bahwa rupanya Allah tak berkenan kepada sebagian dari mereka. Mengapa? Hal ini terjadi, karena meskipun mereka minum minuman rohani yang sama, namun nyatanya kehidupan mereka bercabang. Paulus mengingatkan jemaat di Korintus untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sikap yang perlu dibangun adalah dengan memeriksa kehidupan masing-masing. Demikian juga nasihat Yesus pada orang-orang saat itu. Ketika mereka mendengar tragedy yang dialami oleh orang-orang Galilea, Yesus bertanya, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Yesus mengingatkan agar alih-alih menghakimi orang lain sebagai yang lebih berdosa, kita lebih baik menilik kehidupan pribadi kita. Sungguhkah kita lebih baik? Pertobatan dimulai dari melihat diri sendiri, kan?" Amin.
Renungan Minggu Ini 27Maret 2022
(Minggu Pra Paskah IV, Minggu Keempat)
“KITA ADALAH ANAK BUNGSU, SEKALIGUS ANAK SULUNG "
(2 Korintus 5: 16-21 dan Lukas 15:1-3, 11-32)
Sudah lama kita terbiasa melihat si anak bungsu sebagai anak yang hilang dan anak sulung sebagai yang lebih baik meskipun ya tentu ada hal yang tidak sempurna dari dirinya. Kita kemudian diajak menjadi seperti si anak sulung dengan beberapa perbaikan sikap. Bukankah sesungguhnya sikap yang direpresentasikan oleh anak bungsu ataupun sulung ada dalam diri kita? Beberapa “kurang ajar” pada Allah, meninggalkan kasih Allah seperti si bungsu. Lalu beberapa ada yang duduk manis di dekat Allah, namun hatinya dipenuhi amarah dalam diam. Seperti si bungsu, beberapa orang dihantui perasaan bersalah, menghukum dirinya sendiri saat dirinya jauh dari Bapa. Tak sedikit pula seperti si sulung yang meskipun berada dalam kedekatan dengan Bapa, namun ia tak mengharapkan pengampunan bagi Saudaranya sendiri. Bukankah artinya, baik bungsu maupun sulung adalah diri kita sehari hari? Namun kisah Injil hari ini, bukan berfokus pada dosa melainkan menitikberatkan pada kasih Sang Bapa. Selama ini Sang Bapa tidak mengajukan pertanyaan mengapa anaknya pergi atau kemana dia pergi. Sang Bapa tak marah, pun tak membantah. Ia tidak menghukum anak-Nya, pun tidak membatasi anak-Nya. Kasih macam itu yang sesungguhnya mengubahkan kehidupan anak-Nya. Sikap yang menerima kasih Bapa sebesar itu, nampak dalam ucapan Paulus dalam suratnya pada jemaat di kota Korintus. Ia nampak sudah beres dengan dirinya, tak lagi nampak sikap anak bungsu ataupun anak sulung dalam dirinya. Baginya, kasih Allah mengubahkan hidupnya. Amin
Renungan Minggu Ini 13Maret 2022
(Minggu Pra Paskah II, Minggu Kedua)
“TEGUH PADA PANGGILAN DI TENGAH KETIDAKPASTIAN "
(Kejadian 15:1-18 dan Lukas 13:31-35)
Keputusasaan melanda hidup Abram. Ia takut janji Tuhan untuk memberikan keturunan baginya tidak terwujud. Namun Tuhan menegaskan janji-Nya selalu “Ya dan Amin.” Abram percaya pada janji Tuhan, itulah yang membuat Abram melanjutkan pengharapannya pada janji Tuhan, yang sepertinya sulit untuk ditepati.
Pada bacaan Injil, kita merasakan bahwa keyakinan pada rencana Bapa membuat Yesus berjalan menuju Yerusalem, kota paradosks. Di satu sisi kota suci, di sisi lain kota tempat para nabi mengalami aniaya. Yesus berjalan ke Yerusalam untuk menyongsong derita, bukan karena Ia penikmat derita, namun karena Ia melihat bahwa melalui derita-Nya dunia dapat hidup dalam damai sejahtera. Misi itulah yang membuat-Nya melihat derita sebagai rahmat. Di tengah kehidupan umat yang penuh dengan ketidakpastian serta aneka tantangan yang berat, mampukah kita tetap teguh pada panggilan-Nya? Sebagaimana yang ditunjukkan Abram dan Yesus. Amin.