KEDEWASAAN BERARTI KETEKUNAN MENGIKUT YESUS

Renungan Minggu Ini 1 Agustus 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Pertama)

KEDEWASAAN BERARTI KETEKUNAN MENGIKUT YESUS

(Efesus 4:1-16, Yohanes 6:24-35)

 

Semasa hidup-Nya, orang mengikut Yesus dengan berbagai motivasi. Tidak jarang juga ada yang mengikut-Nya karena menikmati mujizat yang Ia lakukan. Sekadar mengikuti sebagai penonton, atau “konsumen” dari karya Yesus. Tentu saja motivasi seperti itu sangat naif dan kekanak-kanakan. Yesus datang bukan sebagai “tukang mujizat”, melainkan sebagai Penolong, Pemberdaya, bahkan Penyelamat umat manusia. Yesus berharap bahwa mereka yang mengikuti Dia, bertumbuh dalam kedewasaan, bukan sekadar "ubyang-ubyung" (ikut-ikutan).

Kedewasaan itu juga yang diingatkan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Efesus. Paulus mengingatkan kepada jemaat supaya "hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu". Panggilan menjadi pengikut Kristus bukanlah sekadar menjadi penikmat berkat atau keselamatan.. Setiap orang Kristen perlu sungguh tekun mengerjakan imannya dalam Kristus, sehingga ia menjadi dewasa dalam iman. Ketekunan seseorang terus mengikut Yesus, itulah yang membedakan apakah ia “Kristen ubyang-ubyung” atau Kristen yang sejati.

Membuka gelaran Bulan Kebangsaan 2021 ini, kita diajak untuk merenungi sudahkah kita menjadi anak bangsa yang dewasa? Kedewasaan sebagai anak bangsa itu ditunjukkan ketika Saudara dan saya bukan hanya menanyakan apa yang bisa kita dapatkan dari Indonesia, melainkan justru apa yang bisa kita sumbangsihkan untuk bangsa ini. Tuhan memberkati

MEMBANGUN RUMAH ALLAH MELALUI PELAYANAN BERSAMA

Renungan Minggu Ini 18 Juli 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Ketiga)

“MEMBANGUN RUMAH ALLAH MELALUI PELAYANAN BERSAMA

( 2 Samuel 7:1-14a, Markus 6:30-34, 53-56 )

Allah tidak berkenan jika Daud membangun rumah kediaman secara fisik untuk-Nya. Bagi Allah, ke mana pun umat-Nya pergi, di situlah Ia berada. Allah berkata, "Aku tidak pernah diam dalam rumah sejak Aku menuntun orang Israel dari Mesir sampai hari ini, tetapi Aku selalu mengembara dalam kemah sebagai kediaman" (2 Sam. 7:6). Allah berdiam bersama umat-Nya, bukan dalam bangunan fisik buatan manusia. Ia selalu berkarya bersama dengan Musa, Yosua, hingga zaman hakim-hakim dan raja-raja. Dengan demikian, “tempat kediaman” Allah adalah dalam kehidupan dan karya segenap umat-Nya.

Dalam bacaan Injil, digambarkan sosok Yesus yang selalu didatangi dan dikerumuni oleh umat Allah. Yesus sama sekali tidak merasa keberatan, bahkan Ia memandang mereka dengan penuh belas kasihan. Yesus menyadari, kehadirannya di dunia bukanlah untuk bertakhta sebagai seorang penguasa politis di sebuah bangunan istana, melainkan di tengah umat Allah. Tubuh Kristus adalah tempat berdiamnya Allah, dan Kristus senantiasa hadir di tengah segala pergu-mulan, perjuangan, juga karya dan pelayanan masyarakat pada zaman-Nya.

Gereja kita sudah mendirikan gedung yang megah di Bekasi Timur. Gedung ini adalah sarana bagi kita beribadah, bersekutu, melayani, dan bersaksi. Jika kita ingin membangun rumah Allah yang sejati, maka kita membangunnya bukan dengan batu bata, semen, dan beton, melainkan dengan karya pelayanan kita bersama, baik bagi warga jemaat maupun bagi masyarakat

MELAYANI WALAU DALAM KELEMAHAN

Renungan Minggu Ini 4 Juli 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Pertama)

MELAYANI WALAU DALAM KELEMAHAN

(2 Korintus 12 : 2-10,  Markus 6 : 1-13)

 

Paulus mengalami pengalaman rohani yang luar biasa. Namun demikian ia tidak menyombongkan dirinya karena pengalamannya itu. Alih-alih, Paulus justru merendahkan dirinya dengan mengungkapkan bahwa ia memiliki satu kelemahan ("duri di dalam dagingnya"). Banyak penafsir yang mengartikan “duri di dalam daging” ini adalah penyakin menahun yang diderita oleh Paulus. Dengan kondisi itu, Paulus senantiasa mengharapkan kuasa Allah untuk bekerja dalam pelayanannya. Sabda Allah yang menguatkannya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”  Dengan kisah itu, Paulus hendak menegaskan bahwa kerasulannya bukanlah didasarkan atas pengalaman-pengalaman supranatural, melainkan di atas ajaran Tuhan Yesus Kristus. Segala kelemahan dan keterbatasan manusiawi tidak menghalangi siapa pun menjadi pelayan Allah.Demikian pula dalam bacaan Injil, Yesus mengutus para murid untuk melayani dari desa ke desa, dengan menyandang keterbatasan, sehingga dalam kondisi itu mereka akan selalu mengharapkan kuasa Allah. Mereka hanya boleh membawa tongkat, memakai satu baju, dan mengenakan satu alas kaki. Dalam kondisi itu, kekuatan Allah mereka dapatkan dari orang-orang yang menerimanya di desa yang mereka kunjungi. Dengan keterbatasan itu, Yesus hendak mengajarkan para murid-Nya bahwa pelaku misi Allah juga harus mengandalkan Sang Empunya Misi – bukan mengandalkan kemampuan dan kelebihan dirinya.

Bacaan kita hari ini menegaskan bahwa segala kelemahan dan keterbatasan pribadi kita bukanlah halangan untuk melayani Tuhan dan sesama. Selagi kita bersedia diutus oleh Allah untuk melayani sesama, Ia pasti menguatkan, memperlengkapi, dan memampukan. Mari terus melayani Tuhan dan sesama, walau dalam kelemahan. Tuhan memberkati.

MELAYANI DENGAN TOTALITAS

Renungan Minggu Ini 11 Juli 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Kedua)

MELAYANI DENGAN TOTALITAS

(2 Samuel 6 : 1-5, 12b-19, Markus 6 : 14-29)

 

Kisah wafatnya Yohanes Pembaptis yang dihukum mati oleh Herodes justru memperlihatkan kepada kita totalitas pelayanannya. Yohanes dengan tegas menyuarakan seruan profetiknya kepada Raja Herodes, walau risikonya ia dipenjara, bahkan dieksekusi mati. Ia bukanlah tipe “nabi istana” yang hanya menyuarakan apa yang menyenangkan hati raja. Yohanes adalah nabi yang dengan sepenuh dirinya menyuarakan apa yang Allah ingin sampaikan kepada umat-Nya, juga kepada penguasa – walaupun nyawa taruhannya. Seorang nabi memang harus selalu bersaksi dan melayani dengan totalitas dirinya.

Dalam bacaan dari kitab 2 Samuel, kita melihat Daud pun memperlihatkan totalitasnya ketika ia memindahkan tabut Allah ke Yerusalem. Ia bukan hanya memberi instruksi, namun juga hadir dalam arak-arakan itu, bahkan "menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga" - walau, ironisnya, isterinya sendiri justru memandang rendah dirinya. Bagi Daud hidupnya adalah bait pujian bagi Allah. Karena itulah ia mengekspresikan syukur dan pujiannya melalui tari-tarian.

Nah, bagaimanakah Saudara dan saya mewujudkan totalitas dalam pelayanan hidup kita? Di tengah keluarga, sudahkah kita melayani dengan sepenuh diri bagi suami, isteri, anak, dan orang tua kita? Di tempat kerja atau dalam bisnis, sudahkah kita memperlihatkan profesionalitas secara total? Dalam pelayanan gerejawi, sudahkah kita memberikan yang terbaik? Mari kita terus melayani dengan totalitas, sebagaimana Firman Tuhan mengajarkannya. Soli Deo Gloria!

ROH YANG AKAN MENGUBAHMU!

Renungan Minggu Ini 30 Mei 2021

 (Minggu Trinitas, Minggu Kelima)

ROH YANG AKAN MENGUBAHMU!

(Roma 8:12-17 dan Yohanes 3:1-17)

 

Di dalam perikop ini, Paulus ingin menekankan betapa perlunya untuk terus mempertahankan hidup yang dipimpin oleh Roh. Hal mendasar yang membuat ini menjadi penting adalah karena dosa senantiasa berusaha untuk berkuasa atas hidup manusia. Apabila seorang manusia terus berusaha untuk mematikan perbuatan-perbuatan buruk yang tidak berkenan di hadapan Allah, maka dia sedang menunjukkan kehidupan yang dipimpin oleh Roh. Dengan demikian, kehidupan yang dipimpin oleh Roh adalah kehidupan yang berubah menjadi lebih baik lagi. Demikian juga ketika Nikodemus berjumpa dengan Yesus. Sesungguhnya ada sesuatu yang dia cari. Bahwa perubahan perlu berangkat dari pemahaman atau dengan kata lain, perubahan cara berpikir. Sebuah perubahan dasar yang lahir sebab kita memberi diri untuk bercakap dengan Allah Sang Sumber Pengetahuan.

 Perikop dalam Injil Yohanes ini adalah sebuah ajakan bagi manusia untuk tidak hanya menempatkan pemahaman tentang Allah di dalam pikiran semata. Perkataan Nikodemus, “Rabi, kami tahu...” adalah gambaran bagaimana konsep berpikir Nikodemus tentang Allah, mungkin juga konsep berpikir sebagian dari kita. Kata “kami tahu” yang dikatakan oleh Nikodemus justru membeberkan bahwa pada kenyataannya Nikodemus tidak tahu sama sekali tentang apa yang dikatakannya. Maka, perubahan cara berpikir lahir dari kemauan diri untuk dididik oleh Roh Allah sendiri. Saudara ingin berubah? Mulailah dari mengubah cara pikir Saudara. Amin