MERAWAT KELUARGA DENGAN KASIH

Renungan Minggu Ini 25 Oktober 2020

 (Minggu Biasa, Minggu Keempat Bulan Keluarga)

MERAWAT KELUARGA DENGAN KASIH

(Imamat 19: 1-2, 15-18 dan Matius 22: 34-46)

Renungan hari ini berbicara tentang kasih. Persoalannya, bagaimana mewujudkan kasih itu?.  Menghadirkan kasih di dalam kehidupan keluarga tentu tidak cukup hanya dengan membaca, mendengarkan, dan merenungkan firman Tuhan. Dibutuhkan pula tindakan yang terus dilatihkan dalam keseharian hidup. Di dalam Imamat 19:1-2,15-18, kehidupan yang kudus menjadi panggilan Allah bagi umat Israel. Karena Allah kudus, maka umat Israel juga harus mengkuduskan dirinya. Merawat kekudusan yang menjadi identitas tersebut membutuhkan dorongan sehingga menjadi sebuah karakter umat Allah yang ditampakkan melalui perbuatan keseharian yang paling realistis dalam relasinya dengan orang lain. Berbuat kudus berarti ada motivasi mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri di samping mengasihi Allah. Ketika seseorang mampu memancarkan cinta kasih, ia sedang mengejar kekudusan hidup. Ketika ia sedang mewujudkan keduanya, iapun sedang memberitakan Injil dan belajar bagaimana melayani Tuhan dan sesama.

Injil Matius 22:34-46 menarasikan seorang Farisi yang juga ahli Taurat untuk menjebak Yesus. Melalui dialog itu, Yesus hendak memberikan sebuah definisi yang utuh berkaitan tentang iman. William Barclay mengungkapkan 2 hal penting. Pertama, kasih yang menjadi sebuah perintah ini harus dilakukan secara total kepada Allah. Kasih yang menguasai emosi seseorang, kasih yang mengarahkan semua pikiran seseorang, kasih yang merupakan dinamika tindakan seseorang. Kasih merupakan wujud sebuah komitman total hidup seseorang kepada Allah. Kedua, kasih kita kepada Allah juga harus terwujud dalam kasih kita terhadap sesama manusia. Ketika kita mengasihi Allah, kita juga mengasihi sesama manusia. Mengasihi Allah dan sesama manusia ini bukan dengan perasaan yang samar-samar, melainkan dengan komitmen penuh yang diwujudkan dalam devosi kepada Allah dan pelayanan praktis kepada sesama manusia. Selamat merawat keluarga dengan kasih. Amin.

MERAWAT KELUARGA DENGAN MEMBERI APA YANG WAJIB KEPADA ALLAH

Renungan Minggu Ini 18 Oktober 2020

 (Minggu Ketiga, Minggu Ketiga Bulan Keluarga)

MERAWAT KELUARGA DENGAN MEMBERI APA YANG WAJIB KEPADA ALLAH

(1 Tesalonika 1: 1-10 dan Matius 22: 15-22)

Paulus mengungkapkan rasa syukur atas karya pemberitaan Injil kepada jemaat di Tesalonika. Karya pemberitaan Injil itu tidak dilakukan oleh kekuatan manusia melainkan karena kekuatan Roh Kudus (ay. 5). Umat Tesalonika dahulu menyembah berhala-berhala (ay. 9). Ketika umat Tesalonika menjadi percaya, jalan yang mereka tempuh tidaklah mudah. Mereka harus menerima penindasan yang berat (ay. 6). Justru karena itu, mereka  diminta tetap berfokus pada Tuhan sehingga tetap menjadi penurut-penurut Tuhan dan penurut-penurut para pemimpin. Akibatnya, karya umat begitu luar biasa sehingga mereka menjadi teladan dalam kehidupan iman, Dalam kalimat lain mereka menjadi “pemimpin” bagi jemaat-jemaat lain untuk belajar beriman (ay. 8). Itu sebabnya Paulus selalu mendoakan jemaat supaya tetap mengerjakan iman dan usaha kasih dengan tetap bertekun di dalam pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus.

Kalimat Yesus “berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” menunjukkan bahwa prioritas hidup adalah Allah semata-mata. Kalimat Yesus menarik untuk diperhatikan. Bagi orang beriman, apa yang wajib diberikan kepada Allah? Semua! Dengan jawaban itu Yesus menegaskan sebuah pemahaman penting, yaitu “Siapa Tuanmu?” Jawaban Yesus membuat umat belajar bahwa satu-satunya Tuan adalah Allah. Ketertundukan umat kepada penguasa diletakkan di bawah penghormatan kepada Allah. Bagaimana dengan keluarga? Sudahkah keluarga belajar untuk memberi apa yang wajib kepada Allah? Bukan sekedar materi, tapi fokus hidup, waktu, hati dan tenaga.

Saudara-saudara, marilah kita merawat bersama kita, khususnya di tengah keluarga kita dengan menempatkan Kristus sebagai Kepala Keluarga. Semuanya dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Kemuliaan untuk Tuhan selama-lamanya. Amin

KELUARGA BAGAI KEBUN ANGGUR, RAWATLAH!

Renungan Minggu Ini 4 Oktober 2020

 (Minggu Pertama, Minggu Biasa, Bulan Keluarga)

KELUARGA BAGAI KEBUN ANGGUR, RAWATLAH!

(Yesaya 5: 1-7 dan Matius 21: 33-46)

Salah satu gambaran yang dipakai untuk menyebut umat Allah Israel dalam kebun anggur atau pohon anggur. Anggur adalah lambang kemakmuran dan damai sejahtera. Dengan menggambarkan umat Allah sebagai pohon atau kebun anggur, itu berarti hidup kita tidak lepas dari pemeliharaan Allah. Dalam pemeliharaan Allah hidup umat Allah akan penuh dengan damai sejahtera. Seperti petani anggur yang merawat dengan telaten pohon anggurnya, demikianlah yang dilakukan Allah dalam memelihara umat-Nya. Yesaya menyatakan pemeliharaan itu mulai dari mencari lahan yang subur (Yes. 5:1), membuat pagar duri sekeliling (Yes. 5:5), mencangkul, membersihkan batu dari tanah, menanam dengan benih anggur pilihan, mendirikan menara, bahkan menyiapkan lobang untuk  pemerasan saat panen nanti (Yes. 5:2). Begitu lengkapnya pemeliharaan Allah. Sayangnya, pemeliharaan Allah itu seringkali diabaikan umat Allah. Mereka mencari jalan sendiri. Mereka tidak taat dan tidak setia pada Allah Sang Pemelihara. Alih-alih mendapat berkat, yang terjadi justru pohon anggur berbuah asam atau bahkan layu tak terawat. Gambaran tentang kebun anggur juga dipakai oleh Yesus dalam Injil Matius 21:33-46.

Belajar dari pengalaman iman umat Israel, kita bisa juga membayangkan keluarga kita sebagai kebun anggur masa kini. Allah, Sang Pemelihara, telah dengan telaten merawat kehidupan keluarga kita. Berbagai pengalaman pemeliharaan Allah yang luar biasa kita rasakan sebagai keluarga.Apa tujuan Allah memelihara keluarga kita? Agar keluarga kita berbuah menjadi berkat bagi sesama kita. Sama seperti pohon yang berbuah, memberi kehidupan bagi yang memakannya, demikian juga kita dipanggil untuk berbuah bagi kehidupan.Tugas kita bersama adalah saling mengingatkan, menguatkan, dan menyuburkan, agar keluarga kita tumbuh dalam kebahagiaan dan berbuah dengan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin

MERAWAT KELUARGA DENGAN BELAJAR MENDENGAR

Renungan Minggu Ini 11 Oktober 2020

 (Minggu Kedua, Minggu Kedua Bulan Keluarga)

MERAWAT KELUARGA DENGAN BELAJAR MENDENGAR

(Filipi 4: 1-9 dan Matius 22: 1-14)

Jemaat Filipi diingatkan untuk berdiri teguh (ay. 1). Peringatan ini penting karena serangan para pengajar sesat begitu hebatnya. Hal ini seakan mengulangi apa yang dikatakan Paulus dengan kalimat yang keras dalam Filipi 3:2, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu.” Paulus juga mengingatkan agar jemaat Filipi hidup dalam kesatuan yang disebutnya dengan istilah “sehati sepikir” (ay. 2). Dalam  terang itu Paulus menyampaikan nasihat agar umat senantiasa hidup dalam sukacita, melakukan kebaikan, dan berdoa tanpa henti. Jemaat di Filipi juga diminta memandang kehidupan yang mereka jalani dari sudut yang positif (ay. 8).

Kerajaan Sorga diumpamakan seperti pesta perjamuan perkawinan. Makna perumpamaan ini disimpulkan dalam ayat 14: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Panggilan pesta sukacita Allah telah lama disampaikan. Secara khusus, undangan itu disampaikan kepada bangsa Israel. Namun, bangsa ini tidak mengindahkannya. Termasuk para pemimpin agama, yang juga mengabaikan undangan itu.  Akhirnya, undangan itu disampaikan kepada semua orang. Yang percaya akan merasakan betapa indahnya mendengarkan dan menerima undangan Sang Tuan.Mendengarkan bukan hal yang mudah bagi manusia. Berapa banyak konflik terjadi karena kita tidak mendengarkan? Dalam hidup ini Tuhan telah menyampaikan kehendak-Nya melalui berbagai macam bentuk dan cara. Karena itu kita diminta mendengarkan suara-Nya, seperti domba mendengarkan gembalanya. Amin.

KATRESNAN SEJATOS MBOTEN NYILAKAKAKEN SANES

Renungan Minggu Ini 27 September 2020

 (Minggu Keempat, Minggu Biasa)

KATRESNAN SEJATOS MBOTEN NYILAKAKAKEN SANES

(Filipi 2: 1-13 dan Matius 21: 23-32)

Suasana yang indah, rukun dan penuh kesejukan dalam jemaat adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan bersama sebagai pengikut Kristus. Oleh karena itu keharmonisan dalam persekutuan perlu selalu diusahakan dan dipertahankan dengan cara-cara yang tepat. Melalui suratnya ini, Rasul Paulus mengajak jemaat untuk tetap bersatu dan mendasarkan cara hidup bersama seperti yang telah Kristus ajarkan, yaitu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri dan juga rendah hati satu dengan yang lainNya. Keyakinan pada Kristus, perlu diikuti dengan sebuah tindakan kasih yang konkret. Hal ini Nampak dalam Perumpamaan tentang dua anak yang disampaikan Yesus ini juga memperlihatkan bagaimana anak yang pertama terlihat taat dan siap melakukan kehendak bapanya. Dalam kenyataannya, ia tidak melakukan apa yang diminta oleh bapanya. Apa yang dilakukan terlihat baik dan benar. Namun dalam kenyataannya justru sebaliknya. Hal ini adalah gambaran dari para imam dan tua-tua itu. Hal ini tentu tidak berkenan di hadapan Bapa. Sementara anak yang kedua yang sepertinya tidak baik, justru pada akhirnya mau melakukan apa yang dikehendaki oleh bapanya. Hal ini menjadi gambaran pemungut cukai dan perempuan sundal. Melalui dua bacaan ini, kita diajak untuk sungguh-sungguh melakukan apa yang kita yakini, yang mewujud dalam tindakan kasih pada sesama sesuai kehendak Bapa. Amin