ROH KUDUS MERENGKUH KITA MENJADI ANAK-ANAK ALLAH

Baptisan Yesus bukanlah tanda pertobatan, karena Ia tidak membutuhkan pertobatan. Pembaptisan-Nya adalah momen di mana Allah, Sang Bapa, merengkuh Yesus sebagai Anak-Nya di dalam hakikat kemanusiaan-Nya, juga momen di mana Bapa mengaruniakan Roh Kudus bagi-Nya. Melalui baptisan yang Yohanes layankan, Roh Kudus merengkuh Yesus di dunia sebagai Anak Allah. Eksistensi Yesus sebagai Sang Anak, dengan demikian menjadi nyata di sorga maupun di dunia. Peristiwa trinitaris ini demikian penting, hingga Petrus dan Yohanes diutus untuk mendoakan komunitas di Samaria yang sudah dibaptis, agar mereka juga beroleh Roh Kudus. Dengan baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, setiap orang percaya direngkuh menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, sebagaimana Kristus, setiap pengikut-Nya juga ditarik ke dalam karya Allah di dunia.

Jika Allah sedemikian kasih-Nya merengkuh manusia yang rapuh, bukankah kita – anak-anak Allah – juga harus mewujudnyatakan rengkuhan Allah itu bagi sesama, khususnya yang rapuh dan membutuhkan pertolongan? Jangan hanya meminta Allah untuk berkarya dalam hidup kita. Ingat juga bahwa Allah menarik kita dalam persekutuan dengan Tritunggal Kudus untuk hidup dalam karya-Nya di dunia. Menutup rangkaian Masa Adven dan Natal, hari ini kita diingatkan bahwa Roh Kudus telah merengkuh kita menjadi anak-anak Allah untuk menyatakan kebajikan bagai sesama. Walau kita rapuh, namun Roh-Nya memampukan. Tuhan memberkati

KEBAJIKAN ALLAH NYATA BAGI SEGENAP BANGSA

Renungan Minggu Ini 2Januari 2022

 (Minggu Epifani, Minggu Pertama)

KEBAJIKAN ALLAH NYATA BAGI SEGENAP BANGSA"

(Yesaya 60:1-6, Matius 2:1-12)

Pada setiap tanggal 6 Januari, gereja merayakan hari raya Epifania. Hari ini dirayakan sebagai hari kelahiran Yesus oleh umat Kristen Ortodoks. Epifani berarti "penyataan", “penampakan”, atau "manifestasi". Kekristenan menghayati epifani sebagai penampakan Allah dalam rupa manusia melalui kelahiran Yesus. Dunia adalah milik Allah, dan karenanya Ia hadir di tengah milik kepunyaan-Nya. Dunia direngkuh oleh Sang Kristus, dan Kristus adalah milik dunia. Ya, Yesus Kristus adalah milik dunia, milik segala bangsa, bukan hanya bangsa Yahudi saja. Itulah mengapa kita membaca kisah kedatangan orang-orang Majus dari Timur – yang notabene adalah orang-orang non-Yahudi.

Epifani juga menyatakan kebajikan Allah kepada umat manusia, yaitu hadirnya terang dan kemuliaan Tuhan yang menyingkirkan kegelapan dunia. Kehadiran-Nya menyatakan bahwa kebajikan dan keselamatan dari Allah adalah untuk segenap umat manusia. Sang Terang itu menjadi alasan begitu banyak orang berhimpun ke sekitar-Nya: para gembala, para majus, para senior (Simeon dan Hana), alim-ulama di Bait Allah, bahkan dua belas pemuda yang mengikut-Nya. Yesus adalah penampakan Allah sekaligus “magnet” yang menarik mereka yang dekat dan jauh datang dengan sukacita dan syukur. Mari renungkan, sudahkah kita juga menjadi penampakan atau epifani Allah dan wujud kebajikan-Nya bagi sesama manusia? Selamat tahun baru 2022! Tuhan memberkati.

KETIKA ALLAH MENGANGKAT YANG KECIL DAN RAPUH

Renungan Minggu Ini 19Desember 2021

 (Adven Minggu IV, Minggu Ketiga)

KETIKA ALLAH MENGANGKAT YANG KECIL DAN RAPUH"

(Mikha 5:1-4a, Lukas 1:39-55)

Hadirnya Mesias dari Betlehem Efrata sebagaimana disabdakan melalui Nabi Mikha, merupakan gambaran bahwa Allah berkenan mengangkat yang kecil dan rapuh untuk mewujudkan karya-Nya. Betlehem bukanlah kota utama di daerah Yudea. Namun toh Allah berkenan menghadirkan Mesias dari daerah minor itu. Walaupun dikatakan bahwa Allah akan mengutus “seorang yang akan memerintah Israel” (Mik. 5:1), orang itu tidaklah muncul dari istana raja di Yerusalem.

Demikian juga, Allah berkenan memakai Maria, seorang gadis Yahudi yang bukan keturunan bangsawan, bukan pula gadis yang terkenal, melainkan seorang yang sederhana dan dari masyarakat biasa, untuk mengandung dan melahirkan bayi Yesus. Dalam nyanyian Maria (Luk. 1:46-55), ia menyadari dan mengidentifikasi dirinya sebagai “hamba” dan “orang yang rendah”. Walau demikian, kekristenan purba menyebut Maria sebagai “sang wadah dari yang tak terwadahi” yang menggambarkan bahwa walaupun Maria penuh dengan keterbatasan, namun ia dipakai Allah untuk mengandung Yesus, Putera Allah. Kenyataan ini menunjukkan betapa Allah bisa mengangkat yang kecil dan rapuh untuk melakukan kehendak-Nya.

Dunia ini memikat kita untuk berlomba-lomba menjadi “juragan”, “sultan”, “boss” yang dipandang tinggi, kuat, dan berkuasa. Padahal firman Tuhan pada Minggu keempat di Masa Adven ini mengajak kita untuk menyadari bahwa yang kecil, rapuh, dan lemah pun bisa diangkat dan dimuliakan oleh Allah demi menyatakan kehendak-Nya. Tuhan memberkati.

TUMBUHNYA KEBAJIKAN DI RUMAH BAPA

Renungan Minggu Ini 26Desember 2021

 (Minggu Sesudah Natal, Minggu Keempat)

TUMBUHNYA KEBAJIKAN DI RUMAH BAPA "

(Kolose 3:12-17, Lukas 2:41-52)

Kebajikan bukanlah sesuatu yang muncul atau tumbuh secara otomatis, baik dalam diri seseorang maupun dalam sebuah komunitas. Ia perlu dibina, dikondisikan, terus dilatih, dan diingatkan. Demikian yang Paulus ajarkankepada jemaat di Kolose. Dalam surat penggembalaannya, tiada henti ia terus mengingatkan umat untuk mewujudnyatakan kebajikan di tengah umat.Kebajikan itu, menurut Paulus, diwujudkan dalam belas kasihan (asih welas), kemurahan (kaloman), kerendahan hati (andhap asor), kelemahlembutan (alusing bebuden), dan kesabaran (sabar). Semua wujud kebajikan itu dipersatukan dan disempurnakan oleh kasih (katresnan).

Yesus yang beranjak remaja memahami bahwa Ia pun membutuhkan nurture (pengasuhan) secara rohani. Walaupun bapak dan ibunya, Bapak Yusuf dan Ibu Maria, adalah orang-orang yang sangat baik dan dekat dengan Allah, Yesus merindukan pembelajaran secara khusus dalam keteduhan di rumah Bapa-Nya. Itulah sebabnya ia berkeras untuk belajar bersama para ulama dan cendekiawan di Bait Allah, untuk mengenal nilai-nilai kebajikan.

Kecerdasan spiritual merupakan sesuatu yang perlu terus dilatih dalam diri setiap pengikut Kristus. Tiada kata ‘finish’ untuk terus belajar apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita. Karena itu, milikilah “kehausan dan kelaparan” akan kebajikan, Allah akan memuaskannya bagi kita.

SUKACITA DAN PERUBAHAN HIDUP SEBAGAI KEBAJIKAN

Renungan Minggu Ini 12Desember 2021

 (Adven Minggu III, Minggu Kedua)

SUKACITA DAN PERUBAHAN HIDUP SEBAGAI KEBAJIKAN

Filipi 4:4-7, Lukas 3:7-18

Minggu ketiga di Masa Adven disebut "Gaudete Sunday" atau Minggu Sukacita. Rasul Paulus, walaupun dari dalam penjara, menyerukan kepada umat untuk menjalani kehidupan dan persekutuan mereka dalam sukacita senantiasa. Apa sih yang dimaksudkan dengan sukacita itu? Tentu bersukacita yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus bukan berarti bersenang-senang buat diri sendiri, melainkan menghadirkan sukacita bagi sesama melalui kebajikan. Yohanes Pem-baptis menyerukan perubahan hidup sebagai "buah pertobatan". Buah-buah kehidupan yang baik tentu saja akan memberi sukacita bagi orang yang memakannya. Dengan demikian, perubahan hidup sejati mestilah membawa sukacita.Di berbagai belahan dunia pada masa kini, ada banyak orang yang sulit menemukan sukacita dalam hidupnya. Ada banyak orang didera kemiskinan karena pengangguran, penderitaan akibat bencana, kesusahan hidup akibat terjerat utang, dan mengalami kesepian dalam kesendirian hidup. Di Jepang, misalnya, kasus-kasus kodokushi (lansia yang meninggal dalam kesendirian dan baru ditemukan beberapa waktu lamanya) jumlahnya meningkat. Orang-orang yang hidupnya merana ini membutuhkan teman yang mau berbagi sukacita bersama mereka. Kalau kita hidup hanya untuk diri sendiri, bagaimana mereka yang menderita dapat mengalami sukacita.

Mari, isi pekan ini dengan memandang hidup dalam sukacita dan dengan membagikan suka-cita itu bersama orang-orang di sekitar kita. Tuhan memberkati.