MEMAHAMI PERKATAAN YESUS, "MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIBNYA DAN MENGIKUT AKU

Renungan Minggu Ini 28 Februari 2021

 (Minggu II Pra Paska, Minggu Keempat)

MEMAHAMI PERKATAAN YESUS, "MENYANGKAL DIRI,

MEMIKUL SALIBNYA DAN MENGIKUT AKU

(Markus 8:31-38 dan Roma 4: 13- 25)

Ada sebuah istilah yang bernama greatest simplicity (kesederhanaan yang terbesar). Istilah ini dikaitkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus di kayu salib yang membuat keselamatan itu menjadi begitu sederhana jalannya. Selagi kita percaya Kristus, maka kita selamat. Namun, meskipun disebut sederhan, tapi ini sebuah kesederhanaan yang besar. Itu artinya, pada prosesnya pasti tidak mudah dan memerlukan keseriusan. Nah! Itu kenapa, ketika Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memilkul salibnya, Yesus sebenarnya sedang menunjukkan bahwa jalan keselamatan yang sederhana tadi, butuh keseriusan dalam menjalaninya. Ada dua bentuk keseriusan yang muncul dalam bacaan hari ini, yaitu menyangkal diri dan memikul salib. Menyangkal diri berarti berkata tidak pada kehendak diri demi tunduk pada kehendak Bapa dan memikul salib berarti rela menderita karena melakukan kehendak Tuhan.

Dalam bacaan pertama, Abraham disebut dibenarkan karena imannya dan menjadi bapa bagi bangsa-bangsa. Tentu bukan tanpa alasan. Abraham adalah bukti konkrit dari menyangkal diri, yaitu ketika keinginan atau kehendak pribadinya diletakkan di bawah kehendak Allah. Serta juga dengan rela menghadapi penderitaan demi mengikuti kehendak Bapa. Mari Saudaraku, kita belajar menyangkal diri dan memikul salib setiap hari. Amin.

MYSTERIUM TREMENDUM ET FASCINOSUM

Renungan Minggu Ini 14 Februari 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Kedua)

MYSTERIUM TREMENDUM ET FASCINOSUM

(2 Korintus 4: 3-6 dan Markus 9: 2-9)

Mysterium tremendum et fascinosum adalah kalimat yang dicetuskan oleh seorang Teolog Agama-agama yang bernama Rudolf Otto. Beberapa dari kita mungkin pernah mendengar kalimat ini, namun mungkin juga ada yang belum. Kalimat ini memiliki arti, “Allah adalah misteri yang menggentarkan namun juga memesona.” Ada dua jenis perasaan yang mungkin dirasakan oleh manusia mengenai Tuhan. Kita merasa gentar atau takut, namun ada masanya kita merasa begitu terpesona oleh Tuhan. Yang perlu kita pahami, perasaan gentar atau takut ini bukan muncul karena takut akan murka Allah, melainkan karena kita berhadapan dengan kekuasaan Allah yang tak terselami dan kita merasa begitu lemah dan tidak berdaya. Dalam situasi apa perasaan gentar ini muncul? Biasanya, saat Saudara berhadapan dengan situasi-situasi bencana alam, kondisi kehidupan yang tidak menentu, dll.

Pada sisi yang lain, kita juga merasakan keterpesonaan pada Allah. Pada situasi apa perasaan ini muncul? Biasanya saat hal yang baik terjadi, hal yang luar biasa terjadi. Kita terkagum dan terpesona oleh kebaikan Tuhan. Saudaraku, kehidupan iman Kristen bergerak di antara merasa gentar dan merasa terpersona. Allah memang misteri yang menggentarkan hati kita yang membuat kita merasa begitu kecil di hadapan Tuhan, namun Allah juga adalah misteri yang cara kerjanya tak selalu bisa kita pahami, namun membuat kita begitu terpesona. Hal tersebut yang dirasakan oleh Petrus dalam bacaan kita hari ini. Ada kegentaran yang dia rasakan, namun juga ada keterpesonaan yang muncul. Dua hal tersebut muncul bergantian, berkelindan dan tak terpisahkan. Ketika kita hanya terpesona saja, iman kita dibangun hanya dari hal-hal yang indah. Ketika kita gentar saja, kita kehilangan hasrat untuk mengasihi Tuhan dengan sungguh. Selamat merasa gentar, namun juga terpesona oleh Tuhan. Amin

BUKAN SEKEDAR TAKJUB, MELAINKAN MENDENGAR DAN PERCAYA

Renungan Minggu Ini 31 Januari 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Kelima)

BUKAN SEKEDAR TAKJUB, MELAINKAN MENDENGAR DAN PERCAYA

(Ulangan 18:15-20 dan Markus 1:21-28)

 Yesus memang pribadi yang luar biasa, banyak orang yang takjub mendengar pengajaran-Nya. Markus 1: 22, “Mereja takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” Ketakjuban pada sosok Yesus, tidak hanya berhenti saat mereka mendengar Yesus mengajar, namun juga ketika Yesus melakukan mujizat pengusiran roh jahat. “Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: “Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya.” Namun cukupkah sekedar takjub? Ataukah kita sungguh mendengar dan percaya? Mengapa pertanyaan ini penting, sebab jika kita membaca keseluruhan kisah pelayanan Yesus, maka kita tahu bahwa meskipun sudah banyak hal luar biasa yang dilakukan oleh Yesus, mereka terjebak pada ketakjuban semata dan menolak untuk mendengar dan percaya.

Perihal mendengar dan percaya ini memang penting, itu sebabnya dalam bacaan pertama mengenai nubuat kedatangan seorang nabi, umat diingatkan untuk mendengar seorang nabi yang akan dibangkitkan oleh Allah. Iman sejati tidak dibangun semata karena ketakjuban, namun atas dasar ketekunan untuk mendengar yang Ilahi. Maka mari, bukan sekedar takjub saja, namun percaya dan dengarkanlah Dia. Amin

MENYEIMBANGKAN HIDUP

Renungan Minggu Ini 7 Februari 2021

 (Minggu Biasa, Minggu Pertama)

MENYEIMBANGKAN HIDUP

(1 Korintus 9: 16-23 dan Markus 1: 29-39)

Menyeimbangkan hidup adalah tantangan tersendiri bagi setiap manusia. Terlebih di dunia dengan ritme kehidupan yang begitu cepat seolah saling berkejaran seringkali membuat manusia kesulitan untuk membagi waktu secara proporsional. Kita akan melihat bagaimana Yesus menjalani keseharian-Nya. Dikisahkan, dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menunjukkan praktek kehidupan yang seimbang. Kita bisa lihat, setelah semua pelayanan yang Dia kerjakan, yang tentu memiliki ritme yang sangat padat dan cepat, Yesus masih memiliki waktu saat pagi benar untuk berdoa dan kemudian melanjutkan aktivitas pelayanan-Nya.

Di sisi lain, Rasul Paulus juga menjelaskan mengenai apa yang menjadi hak juga kewajiban seorang rasul. Dia tahu persis, menjalankan pelayanan adalah sebuah keharusan, namun juga paham bahwa meskipun dia berhak menerima upah, tapi upah yang dia terima adalah berupa kesempatan untuk memberitakan Injil. Dia tahu persis bagaimana menyeimbangkan sikap ketika harus berhadapan dengan berbagai macam jenis orang dalam pelayanan yang dia lakukan. Menyeimbangkan hidup dalam setiap dimensi kehidupan, menjadi pembelajaran penting yang perlu kita gumuli dalam kehidupan keseharian kita. Kiranya Tuhan menolong. Amin

PENJALA MANUSIA DI JAMAN NOW

Renungan Minggu Ini 24 Januari 2021

 (Minggu Biasa, HUT GKJ Bekasi Timur, Minggu Empat)

PENJALA MANUSIA DI JAMAN NOW

(Yunus 3:1-5,10 dan Markus 1:14-20)

Ketika kita ingin menjala ikan, tentu kita memerlukan pengetahuan khusus agar bisa menangkap ikan, dan tak perlu sungkan untuk melempar jala lalu menjerat ikan yang kita harapkan. Tetapi menjala manusia? Tentu kita tidak bisa asal lempar jala. Manusia bukan ikan, artinya manusia tidak bisa dijala begitu saja. Maksud Yesus ketika mengajak murid-murid-Nya untuk menjadi penjala manusia, adalah untuk menjadi mitra pelayanan bersama Dia. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk membagikan keteladanan bagi rekan kerja, komunitas bahkan orang yang berbeda dengan kita.

Yunus sesungguhnya juga menerima perintah untuk menjadi “penjala manusia” ketika Allah mengutusnya untuk pergi ke Niniwe. Melalui kisah Yunus, kita melihat bahwa respon seseorang dalam menerima panggilan perutusan bisa beragam. Ada yang dengan heran bertanya, kenapa dirinya. Ada yang sukacita menerima, namun juga ada yang menolak dengan beribu alasan. Wajar sih, berhadapan dengan manusia memang tidak mudah, terlebih untuk mewartakan kebenaran. Selain itu, bisa jadi diri sendiri merasa tak cukup baik untuk bisa menjadi “penjala manusia.” Namun, melalui bacaan hari ini, kita diingatkan bahwa seseorang dikatakan pintar menjala manusia, bukan hanya ketika dia mampu berkhotbah dengan baik atau berpelayanan dengan aktif, atau bahkan menguasai ilmu teologi. Daya tarik Kekristenan adalah keteladanan dan itulah jala yang kita pakai untuk menjadi penjala manusia. Pertanyaannya, maukah kita menjadi partner Allah menjadi penjala manusia di jaman now? Tuhan menolong. Amin.