IA MENDOAKAN KITA

Renungan Minggu Ini 29Mei 2022

 (Minggu Paskah VII, Minggu Kelima)

IA MENDOAKAN KITA"

(Yohanes 17:20-26 dan Kisah Para Rasul 16:16-34)

Selama masih hidup di dunia, semua orang akan menghadapi berbagai persoalan dan tantangan, tidak terkecuali orang yang telah menerima Yesus sebagai Juruselamat. Untuk itu Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar melindungi para murid dan semua orang yang percaya kepada-Nya dari dunia yang jahat. Permohonan Yesus agar semua orang percaya dapat menjadi satu seperti Yesus dan Bapa-Nya adalah satu, dapat terwujud jika semua orang yang telah menerima Yesus, tetap percaya penuh pada Kristus.

Maksud dari doa Yesus nampak pada peristiwa yang dialami Paulus dan Silas. Pelayanan mereka tidak mudah, mereka difitnah bahkan mengalami ketidakadilan. Untuk keadaan macam itulah, doa Yesus dinaikkan pada Bapa. Respon Paulus dan Silas atas situasi yang mereka alami, menunjukkan terkabulnya doa Yesus yang memohonkan kesatuan antara umatNya denganBapa, sebagaimana Yesus dan Bapa adalah satu.

Doa Yesus tersebut, tentu juga dimaksudkan untuk kita hari ini. Maka pertanyaan berikutnya adalah, apakah ada persatuan di antara kita? Amin

MEMULIHKAN KESADARAN ATAS PANGGILAN UNTUK BERMISI

Renungan Minggu Ini 22Mei 2022

 (Minggu Paskah VI, Minggu Keempat)

MEMULIHKAN KESADARAN ATAS PANGGILAN UNTUK BERMISI"

(Kisah Para Rasul 16:9-15 dan Yohanes 14: 23-29)

Bacaan dalam Injil adalah salah satu dari pesan-pesan Yesus kepada para murid untuk mengingat orientasi dasar keberadaan mereka untuk mewartakan Kabar Baik. Yesus menegaskan bahwa mereka akan dibekali dengan Roh Kudus yang akan menghibur dan memberikan kecukupan para murid untuk melakukan karya mereka (ay. 25-26). Yesus seolah memahami betul karakter para muridnya yang bisa goyah. Oleh karena itu, Ia mengingatkan bahwa segala sesuatu yang diperlukan para murid untuk melakukan tugasnya sudah diberikan, sehingga manakala mereka gentar dan ragu, ada Roh Kudus yang akan menolong. Ini pengingat yang penting bagi para murid ketika harus bertahan dalam ketekunan dan kesetiaan, menjaga iman percaya pada Damai Sejahtera yang sudah Ia berikan. Melalui bacaan kedua, kita bisa melihat kiprah Rasul Paulus pasca keterpilihannya sebagai alat Tuhan dalam mewartakan kabar baik menunjukkan sikap yang bisa diteladani. Salah satunya adalah kesetiaan, ketekunan dan keberaniannya untuk mengambil keputusan berdasarkan panggilan Tuhan. Panggilan dalam bentuk penglihatan dapat menjadi gambaran bahwa ada visi yang membimbing rasul Paulus untuk melakukan pelayanan pewartaan kabar baik.

Kedua bacaan hari ini menegaskan bahwa misi gereja sejak semula hingga kini adalah untuk mewartakan kabar baik, berita Injil, warta Damai Sejahtera. Maka niscaya upaya-upaya untuk tetap menghidupi misi itu diperhadapkan dengan beragam tantangan dan kesulitan. Sulitkah? Jelas. Pesan “Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (ay. 27), boleh jadi adalah peringatan bahwa apa yang akan para murid lakukan untuk bersaksi tentang karya Damai Sejahtera Kristus tidaklah mudah. Amin

SAATNYA UNTUK PERCAYA

Renungan Minggu Ini 8Mei 2022

 (Minggu Paskah IV, Minggu Kedua)

SAATNYA UNTUK PERCAYA"

(Kisah Para Rasul 9:36-43 dan Yohanes 10:22-30)

Mengapa ada yang tidak percaya, namun juga ada yang percaya? Bukankah mereka yang hidup dalam kisah Injil, banyak juga yang sudah menyaksikan mujizat yang dilakukan Yesus? Atau setidaknya mendengar pekerjaan-Nya yang luar biasa. Lantas mengapa masih tidak percaya? Dan mereka yang hidup dalam kisah mujizat yang dilakukan Petrus, mengapa mereka percaya? Sama-sama melihat, namun kenapa dampaknya berbeda?

Pernahkah kita merenung-renungkan pertanyaan sederhana macam ini? Bagaimana sesungguhnya cara kerja lahirnya kepercayaan dalam diri seseorang? Mungkin jawaban yang paling mudah adalah membuka diri dari segala prasangka. Prasangka inilah yang agaknya menghalangi lahirnya kepercayaan dalam konteks bacaan Injil hari ini. Bukankah demikian juga pepatah mengatakan, mereka yang tidak menyukaimu, tidak akan mempercayaimu. Mereka yang memiliki prasangka atas dirimu, tak mempercayaimu begitu saja. Apa yang bisa kita pelajari dari kedua kisah ini? Sederhana saja, membuang prasangka buruk pada Allah, mendorong kita untuk meyakini segala rencana dan perbuatan-Nya dalam kehidupan kita. Apapun itu, baik ataupun buruk situasinya inilah saatnya untuk percaya. Amin

MEMULIHKAN IDENTITAS SEBAGAI MURID

Renungan Minggu Ini 15Mei 2022

 (Minggu Paskah V, Minggu Ketiga)

MEMULIHKAN IDENTITAS SEBAGAI MURID"

(Kisah Para Rasul 11:1-18 dan Yohanes 13:31-35)

Pada bacan Injil, Yesus memberikan perintah baru bagi para murid (ayat 34-35). Agar komunitas mereka tetap dalam kesatuan pasca tidak lagi bersama Yesus tetap terjalin, para murid mendapat perintah baru. Perintah-Nya adalah agar para murid saling mengasihi. Kata mengasihi diulang sebanyak tiga kali. Mengapa disebut perintah baru? Perintah baru itu dimaksud sebagai penegasan bahwa dasar dari perintah itu adalah Yesus sendiri. Sebagaimana Ia mengasihi para murid, maka para murid harus saling mengasihi. Ketika mereka tak mengasihi, maka mereka bukanlah murid Yesus.

Perintah untuk mengasihi, nampak secara konkret dalam Kisah Para Rasul 11:1-18. Bacaan ini berisi pertanggungjawaban Petrus terhadap baptisan yang dilakukannya kepada Kornelius. Ia adalah seorang berkebangsaan Itali, perwira pasukan yang tinggal di Kaisarea. Petrus mempertanggungjawabkannya di hadapan para pemimpin jemaat di Yerusalem, yang berpandangan bahwa karya Kristus hanya ditujukan kepada komunitas Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi dipandang sebagai kelompok kafir, najis dan haram.  Dalam pertanggungjawabannya, Petrus menjelaskan bahwa dalam Yesus paradigma haram-halal tidak relevan. Penglihatan yang diterimanya di Yope, di rumah Simon si penyamak kulit  tempat ia menginap, merupakan titik balik transformasi paradigma Petrus (ayat 5-10). Dalam penglihatan itu, Allah telah menunjukkan bahwa apa yang dahulu dianggap haram sekarang menjadi halal. Namun perlu diperhatikan bahwa sekalipun yang dilihat Petrus adalah makanan, tetapi fokus pesannya bukanlah pada makanan itu sendiri. Makanan haram yang dihalalkan itu menunjuk pada sosok Kornelius dan kelak kepada komunitas non Yahudi secara luas. Jadi, jika Allah di dalam Yesus, yang dipercaya oleh Petrus, telah menyatakan bahwa komunitas bukan Yahudi tidak lagi diharamkan, bahkan dalam anugerah-Nya dihisapkan menjadi bagian dari komunitas Allah, maka tidak ada alasan bagi orang Kristen di Yerusalem untuk menolak dan mencegahnya (ayat 17). Jika kasih kita masih terkotak-kotak, layakkah kita disebut murid-Nya? Dan bukankah kehidupan kita sendiri ini, adalah saat untuk Roh Kudus memulihkan identitas kita sebagai murid-Nya?

KESEMPATAN KEDUA

Renungan Minggu Ini 1Mei 2022

 (Minggu Paskah III, Minggu Pertama)

KESEMPATAN KEDUA"

(Kisah Para Rasul 9:1-19 dan Yohanes 21:1-19)

Saulus dan Petrus menerima kesempatan kedua. Apa yang terjadi? Seperti kita ketahui, sebelum menjadi Paulus, Saulus adalah seorang pembenci Kristus. Kebenciannya bahkan sampai mendorongnya untuk membunuh setiap pengikut Kristus. Bahkan ia mengusahakan legalitas untuk melakukan diskriminasi pada pengikut Kristus dengan meminta surat kuasa kepada Iman Besar. Pada perjalanan menuju Damsyik, ia disapa oleh Yesus sendiri yang mendorong perubahan besar dalam kehidupan Saulus yang kemudian menjadi Paulus. Demikian juga kehidupan Petrus. Ingatkan Saudara kisah penyangkalan yang dilakukan oleh Petrus ketika Yesus ditangkap? 3 kali ia menyangkal sebelum ayam berkokok. Lantas dalam perjumpaan pada kisah Injil hari ini, nampaklah bahwa Yesus masih memberi kesempatan kepada Petrus untuk menjadi gembala bagi umat-Nya. Baik Paulus maupun Petrus adalah orang-orang yang menerima kesempatan kedua dari Allah. Momentum ini dipakai sebaik mungkin, bagaimana dengan kita? Pernahkah kita menerima kesempatan kedua dari Allah? Bagaimana respon kita atas kesempatan yang masih diberikan oleh Allah? Bukankah kehidupan kita sendiri ini, adalah sebuah kesempatan untuk menjawab perubahan dan panggilan dari-Nya?