MEMULIHKAN IDENTITAS SEBAGAI MURID

Renungan Minggu Ini 15Mei 2022

 (Minggu Paskah V, Minggu Ketiga)

MEMULIHKAN IDENTITAS SEBAGAI MURID"

(Kisah Para Rasul 11:1-18 dan Yohanes 13:31-35)

Pada bacan Injil, Yesus memberikan perintah baru bagi para murid (ayat 34-35). Agar komunitas mereka tetap dalam kesatuan pasca tidak lagi bersama Yesus tetap terjalin, para murid mendapat perintah baru. Perintah-Nya adalah agar para murid saling mengasihi. Kata mengasihi diulang sebanyak tiga kali. Mengapa disebut perintah baru? Perintah baru itu dimaksud sebagai penegasan bahwa dasar dari perintah itu adalah Yesus sendiri. Sebagaimana Ia mengasihi para murid, maka para murid harus saling mengasihi. Ketika mereka tak mengasihi, maka mereka bukanlah murid Yesus.

Perintah untuk mengasihi, nampak secara konkret dalam Kisah Para Rasul 11:1-18. Bacaan ini berisi pertanggungjawaban Petrus terhadap baptisan yang dilakukannya kepada Kornelius. Ia adalah seorang berkebangsaan Itali, perwira pasukan yang tinggal di Kaisarea. Petrus mempertanggungjawabkannya di hadapan para pemimpin jemaat di Yerusalem, yang berpandangan bahwa karya Kristus hanya ditujukan kepada komunitas Yahudi. Orang-orang bukan Yahudi dipandang sebagai kelompok kafir, najis dan haram.  Dalam pertanggungjawabannya, Petrus menjelaskan bahwa dalam Yesus paradigma haram-halal tidak relevan. Penglihatan yang diterimanya di Yope, di rumah Simon si penyamak kulit  tempat ia menginap, merupakan titik balik transformasi paradigma Petrus (ayat 5-10). Dalam penglihatan itu, Allah telah menunjukkan bahwa apa yang dahulu dianggap haram sekarang menjadi halal. Namun perlu diperhatikan bahwa sekalipun yang dilihat Petrus adalah makanan, tetapi fokus pesannya bukanlah pada makanan itu sendiri. Makanan haram yang dihalalkan itu menunjuk pada sosok Kornelius dan kelak kepada komunitas non Yahudi secara luas. Jadi, jika Allah di dalam Yesus, yang dipercaya oleh Petrus, telah menyatakan bahwa komunitas bukan Yahudi tidak lagi diharamkan, bahkan dalam anugerah-Nya dihisapkan menjadi bagian dari komunitas Allah, maka tidak ada alasan bagi orang Kristen di Yerusalem untuk menolak dan mencegahnya (ayat 17). Jika kasih kita masih terkotak-kotak, layakkah kita disebut murid-Nya? Dan bukankah kehidupan kita sendiri ini, adalah saat untuk Roh Kudus memulihkan identitas kita sebagai murid-Nya?